Diskusi AP5I Terkait Kuota Tangkap dan Kuota Ekspor Paha Katak – 29 Januari 2022

Menindaklanjuti rapat AP5I dengan KKH terkait pemberian kuota tangkap dan kuota ekspor pada tanggal 27 Januari 2021, AP5I mengadakan diskusi secara virtual dengan packers paha katak anggota AP5I.  Diskusi yang dihadiri oleh semua packers paha katak yang berjumlah 10, lebih fokus ke sharing kondisi market ekspor untuk paha katak ditahun 2021. Seperti di informasikan sebelumnya bahwa kuota tangkap dan kuota ekspor sama dengan tahun lalu, hanya untuk kuota packer yang SAT LNnya habis masa berlakunya dan belum diperpanjang kuota ekspornya akan dibekukan sementara sampai SAT LNnya berlaku kembali. Sebagai gambaran tahun lalu serapan ekspor paha katak masih berkisar 40% – 60% karena kondisi pasar dan pandemi covid19 yang belum berakhir sehingga mengakibatkan market paha katak belum berkembang. Untuk tahun ini diharapkan serapan ekspor paha katak lebih dari 60% agar kuota tangkap dan kuota ekspornya masih bisa sama. Masukan dari beberapa anggota, untuk tahun ini kemungkinan prediksi market paha katak masih sama, hal ini dikarenakan masih terjadinya pandemi-19 yang mengakibatkan market paha katak juga tidak berkembang. Selain itu konidis bahan baku paha katak juga berkurang karena kondisi cuaca dan iklim yang membuat katak sulit bertelur. Pasar utama paha katak masih Perancis dan banyak diserap untuk kebutuhan restoran dan supermarket. Produk paha katak termasuk produk premium ( hanya produk sampingan ) karena tidak dikonsumsi oleh semua negara dan semua orang, tidak seperti produk lainnya. Hal lain yang didiskusikan dalam pertemuan ini adalah mengenai keberlangsungan species katak sebegai bahan baku ( sustainable ) yang mulai menjadi perhatian di negara luar. Saat ini supply bahan baku paha katak tidak mengalami kenaikan secara signifikan sehingga perlu dipikirkan mengenai keberlanjutannya. Sebagai informasi saat ini Vietnam sudah melakukan budidaya katak sebagai kebutuhan bahan baku. Hasil dari pertemuan Budhi Wibowo – Ketua Umum AP5I dengan Amir Hamidy – Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ) menyarankan untuk budidaya katak harus dimulai sehingga tidak hanya mengandalkan dari alam saja. Budidaya tidak perlu mengganti species tetap menggunakan species fejevarya cancrivora dengan menggunakan sistem breeding ( telur ) yang disebarkan ke habitatnya. Fejevarya cancrivora dapat tumbuh di sawah, di gambut, di kebun seperti kebun sawit atau tebu, sehingga ada peluang semisal bekerjasama dengan perkebunan sawit atau tebu dimana telur yang dihasilkan di sebar ke perkebunana tersebut untuk dibesarkan secara alami. Pada intinya mau tidak mau kedepannya harus melakukan budidaya baik itu budidaya seperti seperti yang dilakukan vietnam atau dengan cara penyebaran telur. Dari hasil diskusi ini packers paha katak anggota AP5I sepakat untuk melakukan uji coba hal ini yang akan ditindaklanjuti kemudian.

Tinggalkan Balasan