Members Gathering AP5I – 10 November 2022

AP5I kembali mengadakan Member Gathering secara offline setelah 2 tahun terakhir dengan adanya pandemic covid-19 belum diadakan acara ini. Member gathering AP5I sebagai waktu berkumpulnya anggota-anggota AP5I untuk saling bersilahturahmi, mendekatkan diri satu sama lain dan bertukar pikiran seputar perkembangan industri perikanan. Member gathering kali ini dihadiri oleh Artati Widiarti selaku Analisis Pasar Hasil Perikanan Ahli Utama pada Dirjen PDSPKP yang memberikan informasi seputar apa yang telah dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan terutama Dirjen PDSPKP untuk mendorong industri perikanan meningkatkan ekspor maupun penjualan lokal, termasuk regulasi-regulasi yang ada.  Ketua umum AP5I – Budhi Wibowo dalam member gathering kali ini menjelaskan kondisi pasar yang berubah dikarenakan terjadinya pandemi covid-19 yang merubah sikap dan keinginan konsumen yang tentunya harus diikuti oleh industri agar produknya bisa memenuhi permintaan konsumen dan tetap bisa bertahan menjalankan usahanya. Kalangan industri pengolahan ikan menyebut tren pasar ekspor produk untuk segmen ritel naik hingga 20 persen selama pandemi covid-19, kondisi tersebut terjadi lantaran pada masa pandemi ada kebiasaan baru masyarakat yang lebih memilih mengonsumsi makanan olahan di rumah dibandingkan di kafe atau restoran, jadi mereka kebanyakan belanja di supermarket ataupun online. Kondisi peningkatan pasar ritel untuk produk ikan olahan juga terjadi di pasar domestik dengan kondisi pandemi yang sama. Masyarakat kini cenderung memasak ikan olahan/kalengan yang setengah jadi karena lebih mudah. Permintaan ekspor untuk sektor hotel, restoran dan kafe (horeka) memang sangat turun drastis. Dilaporkan kalau pendapatan Unit Pengolahan Ikan ( UPI ) yang melayani konsumen horeka ini memang turun sampai 70 persen karena sektor horeka di dunia manapun banyak yang tutup. Berdasarkan data Kementerian Kelautan Perikanan( KKP ), ekspor produk ikan olahan pada 2019 kebanyakan menyasar negara Amerika Serikat dengan kontribusi 37 persen, disusul China 17 persen, Jepang 13 persen Asean 11 persen, dan Eropa 8 persen. Komoditas terbanyak yang paling diminati pasar ekspor yakni udang dengan kontribusi hingga 35 persen, lalu ikan tuna, cakalang dan tongkol 15 persen, serta jenis cumi, sotong dan gurita hingga 11 persen dan jenis rajungan serta kepiting mencapai 8 persen. AP5I akan semakin serius dalam mengembangkan pasar dalam negeri produk olahan perikanan. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan pasar dalam negeri terhadap produk perikanan terutama produk olahan siap masak dan saji meningkat sangat tajam. Penjualan ke pasar pun dilakukan melalui penjualan online. Bahwa kendala utama peningkatan penjualan produk olahan perikanan ke pasar dalam negeri, adalah sulit dan mahalnya pengiriman “ door to door ” produk frozen dalam jumlah kecil dari industri pengolahan perikanan ke konsumen akhir. Mengatasi kendala tersebut,  AP5I  terus berkoordinasi dengan KKP dan perusahaan logistik khusus produk frozen . Secara bertahap kendala tersebut akan semakin teratasi, bahkan saat ini sudah mulai tersedia jasa fulfillment door to door. Dengan besarnya penduduk Indonesia dan ekonomi Indonesia yang terus berkembang dan telah berada pada urutan ke-7 ekonomi dunia,  AP5I sangat optimis bahwa pasar dalam negeri produk olahan perikanan akan  terus berkembang dengan pesat.

Tinggalkan Balasan