{"id":3328,"date":"2021-03-02T11:58:00","date_gmt":"2021-03-02T04:58:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/?p=3328"},"modified":"2021-03-26T12:13:38","modified_gmt":"2021-03-26T05:13:38","slug":"rapat-pembahasan-batas-maksimum-cemaran-logam-berat-pada-ikan-dan-produk-perikanan-1-maret-2021","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/2021\/03\/02\/rapat-pembahasan-batas-maksimum-cemaran-logam-berat-pada-ikan-dan-produk-perikanan-1-maret-2021\/","title":{"rendered":"Rapat Pembahasan Batas Maksimum Cemaran Logam Berat Pada Ikan dan Produk Perikanan &#8211; 1 Maret 2021"},"content":{"rendered":"\n<p>Sehubungan dengan adanya revisi <strong>Peraturan BPOM No. 5 tahun 2018<\/strong> <strong>tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan Olahan <\/strong>yang di tetapkan pada tanggal 22 Mei 2018, <strong>Direktorat Pengolahan<\/strong> <strong>dan Bina Mutu KKP<\/strong> akan melakukan pembahasan usulan perubahan pada peraturan <strong>BPOM<\/strong> tersebut. Adapun cemaran logam berat yang dibahas meliputi <strong>Mercury ( Hg ), Timbal\/Lead ( Pb ), Kadmium ( Cd ), Arsen ( As ).<\/strong> Menurut laporan ( EU Scientific Cooperation Task, 2004 ) <strong>Merkuri ( Hg <\/strong>) didistribusikan secara relatif luas dalam makanan pada tingkat yang sangat rendah, dan terutama dalam bentuk anorganik yang kurang beracun. Bentuk merkuri yang paling beracun, <strong>methylmercury<\/strong>, ditemukan ditingkat signifikan hanya pada ikan dan makanan laut. Asupan mingguan sementara yang dapat ditoleransi ( <em>Provisional Tolerable Weekly Intake <\/em>) untuk metilmerkuri ditetapkan oleh <strong>JECFA<\/strong> pada tahun 2003, dengan berat <strong>1,6 \u00b5g\/kg <\/strong>berat badan. Potensi utama sumber makanan yang terpapar methylmercury adalah ikan dan kerang, khususnya ikan predator puncak seperti ikan todak dan marlin. Sedangkan berdasarkan <strong>Peraturan Badan POM No. 5 Tahun 2018 <\/strong>tentang<strong> Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan Olahan <\/strong>batas maksimum cemaran merkuri pada Ikan dan produk perikanan termasuk moluska, krustasea, dan ekinodermata serta amfibi dan reptil adalah <strong>0,50 mg\/kg<\/strong> ( kecuali untuk ikan predator olahan seperti cucut, tuna, marlin <strong>1,0 mg\/kg <\/strong>). Untuk <strong>Timbal\/Lead ( Pb )<\/strong> berdasarkan <strong>Peraturan Badan POM No. 5 Tahun 2018 tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan Olahan <\/strong>batas maksimum cemaran timbal pada Ikan dan produk perikanan termasuk moluska, krustasea, dan ekinodermata serta amfibi dan reptil adalah 0,20 mg\/kg ( kecuali untuk ikan predator olahan seperti cucut, tuna, marlin 0,4 mg\/kg ) sedangkan berdasarkan <strong>General Standard for Contaminants and Toxins in Food and Feed&nbsp; Codex Stan 193-1995 amended in 2019 <\/strong>menetapkan batas maksimum timbal\/lead ( Pb ) pada komoditas ikan ( pada umumnya setelah mengeluarkan saluran pencernaan ) sebesar 0,3 mg\/kg<strong>. Australia New Zealand Food Standards Code <\/strong><strong>menetapkan <\/strong>batas maksimum timbal pada untuk ikan dan produk perikanan sebesar 0,5 mg\/kg<strong>. Untuk Kadmium ( Cd ) Peraturan Badan POM No. 5 Tahun 2018 tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan Olahan, <\/strong>batas maksimum cemaran kadmium pada Ikan dan produk perikanan termasuk moluska, krustasea, dan ekinodermata serta amfibi dan reptil adalah 0,10 mg\/kg ( kecuali untuk ikan predator olahan seperti cucut, tuna, marlin 0,30 mg\/kg ). <strong>General Standard for Contaminants and Toxins in Food and Feed&nbsp; Codex Stan 193-1995 amended in 2019<\/strong> menetapkan batas maksimum Kadmium pada Marine bivalve molluscs dan cephalodopad&nbsp; ( setelah dipisahkan dari cangkang ) sebesar 2 mg\/kg<strong>. Australia New Zealand Food Standards Code <\/strong>menetapkan batas maksimum timbal padauntuk molluscs ( excluding dredge\/bluff oysters and queen scallops ) <strong>sebesar 2 mg\/kg. <\/strong><strong>Arsen ( As )<\/strong> merupakan logam berat yang terdapat dalam bentuk anorganik dan organik di&nbsp; lingkungan, ditemukan secara alami atau akibat aktivitas manusia. Arsen memiliki toksisitas tinggi dalam bentuk anorganiknya bukan dalam bentuk organik. <strong>Badan POM<\/strong> telah menetapkan batas maksimum cemaran arsen dalam <strong>Peraturan Badan POM No. 5 Tahun 2018 tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan Olahan, <\/strong>batas maksimum cemaran Arsen pada Ikan dan produk perikanan termasuk moluska, krustasea, dan ekinodermata serta amfibi dan reptil adalah <strong>0,25 mg\/kg dan maks 1 mg\/kg<\/strong> untuk daging kerang masak beku, bakso ikan. <strong>General Standard for Contaminants and Toxins in Food and Feed&nbsp; Codex Stan 193-1995 amended in 2019 <\/strong>dan <strong>Food And Drugs Administration<\/strong> tidak mensyaratkan arsen ( As ) pada ikan dan produk perikanan<strong>. <\/strong><strong>Council Directive UE 1881 revised 2015<\/strong> juga tidak mensyaratkan arsen ( As ) pada ikan dan produk perikanan<strong>. <\/strong>Untuk <strong>Timah\/Stanum ( Sn ) Peraturan Badan POM No. 5 Tahun 2018 tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan&nbsp; <\/strong>tidak menetapkan batas maksimum cemaran logam berat Timah secara spesifik untuk produk ikan yang dikalengkan<strong>. <\/strong><strong>Australia New Zealand Food Standards Code <\/strong><strong>menetapkan <\/strong>batas maksimum timahsemua produk yang dikalengkan sebesar 250 mg\/kg<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagian besar persyaratan logam berat dalam SNI mengikuti Batasan cemaran sesuai Peraturan BPOM tentang Batasan cemaran logam Hg, Pb, Cd, dan As. Namun, sejak tahun 2018, SNI produk perikanan sudah tidak memasukan persyaratan arsen ( As ) karena batasan maksimum arsen pada <strong>Peratuan BPOM No. 5 Tahun 2018<\/strong> dinilai terlalu ketat yaitu sebesar <strong>0,25 mg\/kg<\/strong>. Arsen pada produk perikanan juga tidak diatur dalam standar Codex.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sehubungan dengan adanya revisi Peraturan BPOM No. 5 tahun 2018 tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan Olahan yang<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3329,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"class_list":["post-3328","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3328","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3328"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3328\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3330,"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3328\/revisions\/3330"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3329"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3328"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3328"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3328"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}