{"id":3654,"date":"2021-09-03T18:53:00","date_gmt":"2021-09-03T11:53:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/?p=3654"},"modified":"2021-09-21T19:05:11","modified_gmt":"2021-09-21T12:05:11","slug":"bincang-bahari-terobosan-kuasai-pasar-udang-dunia-2-september-2021","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/2021\/09\/03\/bincang-bahari-terobosan-kuasai-pasar-udang-dunia-2-september-2021\/","title":{"rendered":"Bincang Bahari Terobosan Kuasai Pasar Udang Dunia &#8211; 2 September 2021"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Sekretariat Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan<\/strong> mengadakan <strong>Bincang Bahari<\/strong> dengan tema <strong>\u201c Terobosan Kuasai Pasar Udang Dunia \u201c<\/strong>. Dalam bincang bahari ini diinformasikan salah satu program KKP adalah membangun tambak udang berbasis kawasan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah sebagai salah satu upaya mencapai target produksi udang nasional sebanyak 2 juta ton\/tahun pada 2024. Strategi tambak udang yang digagas <strong>Menteri Kelautan dan Perikanan &#8211; Sakti Wahyu Trenggono<\/strong> tersebut dinilai sudah sesuai dengan prinsip ekonomi biru. Sebab pembangunannya mempertimbangkan aspek ekologi tidak hanya ekonomi.&nbsp; <strong>Ketua Shrimp Club ( SCI ) Jawa Tengah &#8211; Ilham Priyanto<\/strong> mengatakan SCI Jawa Tengah akan support pembangunan kawasan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen. Salah satu yang tidak kalah penting diperhatikan adalah &nbsp;adanya pertimbangan ekologi atau ekosistem dan lingkungan di kawasan tambak itu sendiri. Pertimbangan ekologi yang berimbas pada kesehatan ekosistem tambak udang merupakan kunci sukses kegiatan budidaya bisa berjalan dalam kurun waktu yang panjang ( kontinuitas ). Dengan demikian, target pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penyerapan tenaga kerja dan kelestarian lingkungan dari program tersebut bisa dicapai. <strong>Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran&nbsp; &#8211; Yudi Nurul Ihsan<\/strong> mengatakan, perlunya komitmen dan kefokusan dalam mengimplementasikan tambak udang berbasis kawasan. Sebab bila berhasil, tambak udang berbasis kawasan di Kebumen akan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Dengan modal fokus, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki, Indonesia bisa menjadi salah satu negara penghasil udang budidaya terbesar di dunia. Sebab Indonesia memiliki potensi sumber daya yang sangat besar dan peluang penyerapan udang di pasar dunia juga sangat tinggi. Belajar dari Vietnam, sesungguhnya keberhasilan Vietnam itu fokus untuk belajar budidaya. Kefokusan mereka menghasilkan sebuah hasil yang luar biasa di sektor kelautan dan perikanan. <strong>Chief of Staff eFishery Chrisna &#8211; Aditya<\/strong> mengakui ilmu pengetahuan dan teknologi sangat diperlukan dalam menjalankan kegiatan budidaya yang sesuai dengan prinsip ekonomi biru dengan melakukan improvisasi. <strong>Bupati Kebumen &#8211; Arif Sugiyanto<\/strong> menerangkan, pertimbangan ekologi jugalah yang menjadi salah satu alasan pihaknya menyambut baik rencana pembangunan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen. Sebab konsep pembagunan yang disodorkan KKP sesuai dengan prinsip lingkungan yang selama ini pihaknya terapkan. Sebagai wujud upaya pelestarian lingkungan, beberapa kegiatan konservasi telah berjalan di Kebumen, seperti konservasi penyu dan kawasan mangrove di wilayah pesisir. Bahkan menurutnya, keberadaan kawasan tambak udang berbasis kawasan nantinya dapat menjadi contoh bagi masyarakat yang ingin melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan standar, sehingga tidak mencemari lingkungan. Kemudian menjadi contoh juga dari sisi manajemen usaha.&nbsp;Ini satu keberpihakan untuk masyarakat Kebumen. Dari sisi bisnis ini menjadi percontohan yang baik. Kemudian masyarakat yang akan membuka lahan tambak, bisa sesuai dengan standar yang benar. Kalau selama ini mungkin langsung masuk ke sungai sehingga bisa mencemari dan merusak lingkungan.&nbsp;Sementara itu <strong>Dirjen Perikanan Budidaya KKP &#8211; Tb Haeru Rahayu<\/strong> menjelaskan, pembangunan kawasan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen merupakan implementasi dari salah satu program terobosan KKP periode 2021-2024. Yakni pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor yang didukung oleh riset kelautan dan perikanan. Sesuai program tersebut harus ada dukungan riset. Jadi pendekatannya secara&nbsp;<em>scientific base.<\/em>&nbsp;Dasarnya salah satunya harus belajar dari kondisi eksisting. Pembangunan fisik tambak udang berbasis kawasan di Kebuman akan dilakukan tahun depan menggunakan dana APBN. Kawasan tambak udang akan dilengkapi infrastruktur utama meliputi petak produksi, tandon, water intake, saluran outlet, IPAL, laboratorium, hingga jalan produksi. Penyerapan tenaga kerja lokal diutamakan untuk mendukung pembangunan termasuk operasional tambak udang berbasis kawasan di Kebumen.&nbsp;Selain tambak udang berbasis kawasan, KKP di bawah nakhoda <strong>Menteri Kelautan dan Perikanan &#8211; Sakti Wahyu Trenggono<\/strong> memiliki terobosan lain untuk menggenjot produktivitas udang nasional untuk mencapai target 2 juta ton per tahun pada 2024. Terobosan lainnya meliputi pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi dengan skala yang lebih besar dari kawasan tambak udang berbasis kawasan, lalu melakukan revitalisasi tambak udang tradisional sehingga produktivitas yang tadinya 0,6 ton per hektar menjadi 2 ton per hektar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekretariat Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan mengadakan Bincang Bahari dengan tema \u201c Terobosan Kuasai Pasar Udang Dunia \u201c. Dalam bincang<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3659,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"class_list":["post-3654","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3654","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3654"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3654\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3658,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3654\/revisions\/3658"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3659"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3654"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3654"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3654"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}