{"id":4852,"date":"2023-07-20T15:50:00","date_gmt":"2023-07-20T08:50:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/?p=4852"},"modified":"2023-08-14T15:54:49","modified_gmt":"2023-08-14T08:54:49","slug":"fgd-kebijakan-dan-strategi-penguasaan-udang-terpadu-benchmarking-industri-udang-ekuador-20-juli-2023","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/2023\/07\/20\/fgd-kebijakan-dan-strategi-penguasaan-udang-terpadu-benchmarking-industri-udang-ekuador-20-juli-2023\/","title":{"rendered":"FGD Kebijakan dan Strategi Penguasaan Udang Terpadu; Benchmarking Industri Udang Ekuador &#8211; 20 Juli 2023"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td>Dalam rangka mendorong peningkatan produksi dan ekspor udang nasional dan mengantisipasi trend persaingan industri udang global, maka perlu dilakukan upaya pembelajaran <em>( benchmarking )<\/em> terkait dengan terobosan kebijakan dan strategi terpadu hulu hilir untuk meningkatkan daya saing dan produktifitas. Sehubungan dengan hal tersebut <strong>Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi <\/strong>mengadakan <strong>FGD Kebijakan dan Strategi Penguasaan Udang Terpadu; Benchmarking Industri Udang Ekuador<\/strong>. Saat ini Pemerintah secara konsisten mendorong akselerasi produksi udang untuk mencapai target 2 juta ton pada akhir tahun 2024 dengan peningkatan ekspor sampai 250%. Dengan peningkatan tersebut Indonesia diharapkan dapat masuk ke dalam top five eksportir perikanan dunia. Upaya ini bukan hal mudah tapi tidak berarti tidak mungkin. Pasar udang dunia saat ini sekitar USD 25 milliar, namun Indonesia baru mencapai market share 10%. Indonesia perlu memperkuat kedua aspek penting industrialisasi udang, yaitu hulunisasi dengan pengembangan kapasitas, kualitas dan produktivitas usaha hatchery dan tambak; dan hilirisasi dengan pengembangan produk olahan bernilai tambah, diversifikasi produk perikanan untuk bisa masuk ke pasar-pasar regional dan global secara kompetitif, penetrasi ke pasar-pasar baru yang potensial, mengingat kebutuhan pangan berbasis laut <em>( blue food )<\/em> saat ini semakin meningkat. Tantangan persaingan dengan berbagai negara produsen udang didunia, seperti Ekuador, Thailand, Vietnam, India mengharuskan Indonesia berfikir lebih kreatif dan inovatif dan bertindak lebih cepat, antisipasi lebih sigap dengan mengembangkan integrasi hulu hilir industri udang yang lebih efisien dan berdaya saing. Saat ini produksi dan ekspor udang Ekuador ke Amerika sudah melampaui Indonesia, Preferensi pasar udang Amerika menempatkan India dan Ekuador sebagai produsen utama lalu diikuti Indonesia untuk <em>Shrimp Water Frozen<\/em>. Pada tahun 2021, Ekuador dan India menyumbang 67% dari total ekspor. Amerika Serikat menyumbang 33% dari impor diikuti oleh China dengan 17%. Tahun 2022 merupakan tahun udang Ekuador, karena memecahkan rekor sejarah, baik dalam produksi, volume ekspor maupun nilai ekonomi. Artinya, udang tergolong produk utama ekspor nonmigas yang saat ini paling banyak menghasilkan penjualan eksternal bagi Ekuador. Udang merupakan pilar ekonomi Ekuador, yang saat ini menyumbang sekitar 280.000 pekerjaan langsung dan tidak langsung. Ekuador memiliki keuntungan besar karena faktor iklimnya yang mendukung produksi berkelanjutan spesies ini, dengan 3 atau 4 siklus panen tahunan, dengan kelangsungan hidup 65% per hektar yang dibudidayakan, sehingga memungkinkan untuk melipatgandakan jumlah produksinya dibandingkan dengan pesaing internasional. Industri udang di Ekuador terkonsentrasi pada spesies yang paling banyak dibudidayakan, yaitu udang vaname pasifik ( Litopenaeus vannamei ) dengan tingkat produksi 95%. Tambak Udang berlokasi di propinsi Guayas ( 60% ), El Oro ( 20% ), Manabi ( 9% ), Esmeraldas ( 9% ) dan Santa Elena ( 2% ). Sebagai informasi fitur tambak udang Ekuador, terdapat 2.712 tambak dengan total 173.804 hektar dalam laporan 2019 dari <strong>World Wild Fund ( WWF )<\/strong>. Menurut WWF tidak perlu menambah penggunaan lahan, air, dan energi, tetapi cukup memperkenalkan variasi dalam efisiensi dan penggunaan sumber daya melalui praktik tertentu, seperti pertukaran air, dan pengelolaan pakan. Salah satu perbaikan penting yaitu meningkatkan penggunaan aerasi mekanik. Aerasi juga mengurangi kebutuhan pertukaran air dan dapat mengurangi penggunaan energi untuk pemompaan. Meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, terutama efisiensi penggunaan pakan, Ini akan mengurangi dan menghemat sumber daya, mengurangi polusi, dan menurunkan biaya produksi. Pada tahun 2010, tambak udang Ekuador hanya memanen 20kg per hektar, namun saat ini dapat memanen hingga 40kg. Yang perlu di pelajari Indonesia atas kesuksesan budidaya udang Ekuador adalah : <br><br>1. Penguatan dan pengembangan produksi induk <em>( broodstock )<\/em> yang mampu menghasilkan jenis benur ( larva ) unggul yang SPF <em>( Specific Pathogen Free )<\/em>, SPR <em>( Specific Pathogen Resistance )<\/em>, SR nya tinggi ( > 90% ), dan Fast Growing melalui program pemuliaan dan genetic engineering.<br><br>2. Penguatan dan pengembangan industri pakan udang yang berkualitas ( FCR &lt; 1,2 ) dan relatif murah.<br><br>3. Padat penebaran rata-rata 15 benur\/m<sup>2\u00a0\u00a0 <\/sup>( semi intensif ), dengan produktivitas rata-rata 25 ton\/ha\/tahun, dan sustainable.<br><br>4. Petambak menggunakan benur unggul dan pakan berkualitas tinggi serta berasertifikat, menerapkan Best Aquaculture Practices dan biosecurity.<br><br>5. Penerapan Integrated Supply Chain Management System.<br><br>6. Penguatan dan pengembangan industri pengolahan dan pasar.<br><br>7. Capacity building para petambak dan stakeholders utama melalui program DIKLATLUH.<br><br>8. Kebijakan pemerintah yang sangat kondusif: akses ke kredit perbankan, infrastruktur, keamanan berusaha, konsistensi kebijakan.<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam rangka mendorong peningkatan produksi dan ekspor udang nasional dan mengantisipasi trend persaingan industri udang global, maka perlu dilakukan upaya<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4853,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"class_list":["post-4852","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4852","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4852"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4852\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4854,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4852\/revisions\/4854"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4853"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4852"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4852"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ap5i-indonesia-seafood.com\/indoap5i\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4852"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}