Outlook Perikanan 2019 – 25 Februari 2019
Sektor Kelautan dan Perikanan mulai memasuki era industri berbasis digital ( industri 4.0 )seperti halnya sektor lainnya. Hal iini bukan saja sebagai trend tetapi juga menjadi kebutuhan khususnya di sub sektor budidaya perikanan ( akuakultur ) untuk terus meningkatkan produksi budidaya yang efisien dan berkelanjutan. Transformasi akuakultur berbasis industri 4.0 ini perlu diselaraskan dengan strategi dan rencana pembangunan perikanan jangka menengah dan panjang. Hal ini supaya kebijakan dan program kerja pemerintah sejalan dan ikut mendukung khususnya perkembangan industri akuakultur nasional. Guna menggali apa saja peluang di era industri akualkultur 4.0 termasuk bagaimana strategi pengembangan dan dukungan kebijakannya, Trobos Aqua mengadakan Outlook Perikanan 2019 dengan tema Peluang, Tantangan, dan Strategi Menyongsong Industri Akuakultur 4.0. Dalam acara ini Budhi Wibowo – Ketua Umum AP5I memberika presentasi mengenai Peluang dan Tantangan Produk Perikanan di Pasar Global. Salah satu yang di tekankan dalam presentasinya mengenai daya saing ekspor produk perikanan dalam bentuk kemasan beku frozen perlu ditingkatkan karena masih jauh tertinggal dengan negara eksportir lainnya. Produk-produk kemasan beku yang diekspor dari Indonesia umumnya hanya mengandung ayam atau daging sapi, sedangkan negara pesaing eksportir, yakni Thailand sudah mengemas produk ikan, seperti seafood dan makarel dalam bentuk makanan siap saji. Ia menjelaskan perusahaan olahan makanan siap saji harus mulai merambah pada produk perikanan beku siap saji ( ready to cook dan ready to eat ). Pasar ekspor ikan segar sudah memiliki pasarnya tersendiri, sedangkan ekspor produk ikan beku masih kurang digarap, padahal potensinya besar bisa mencapai puluhan juta ton. Oleh karena itu, AP5I dalam dua tahun terakhir telah mengusulkan strategi pengembangan perikanan budidaya agar bisa bersaing dengan negara kompetitor melalui konsentrasi terhadap jenis ikan tertentu. Saat ini, ekspor perikanan budidaya harus fokus pada spesies tertentu, misalnya untuk air payau, udang dan ikan bandeng menjadi komoditas yang harus diprioritaskan . Sementara itu untuk air tawar, ikan patin dan lele juga menjadi spesies yang berpotensi meningkatkan daya saing ekspor. Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan, jenis produk perikanan budidaya yang biasa digunakan dalam ketahanan pangan adalah patin, gurame, lele dan bandeng. Dalam kurun waktu 2015-2018 volume perikanan budidaya meningkat rata-rata sebesar 3,36 persen. Komoditas yang meningkat signifikan adalah udang (32,68%), gurame (35,04%), lele (24,66%), kakap (19,26%), nila (12,85%).