Webinar Tata Kelola Penangkapan Ikan yang Bertanggung Jawab dan Berkelanjutan – 31 Agustus 2020
Balai Besar Penangkapan Ikan ( Fishing Technology Development Centre ) Semarang merupakan UPT Dirjen Perikanan Tangkap KKP yang bergerak dalam perekayasaan penangkapan ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dibawah kepemimpinan Menteri Edhy Prabowo mengemban beberapa tugas pokok antara lain meningkatkan pengelolaan organisasi, fasilitas, dan SDM yang terintegrasi; mewujudkan kerekayasaan teknologi perikanan tangkap yang inovatif dan bertanggung jawab; meningkatkan akses informasi dan diseminasi teknologi inovatif kepada masyarakat perikanan tangkap; mewujudkan bahan standar dan menerapkan sertifikasi sarana dan operasi penangkapan ikan, pengawakan kapal dan tenaga kerja perikanan tangkap; meningkatkan pengelolaan sistem jaringan dan pelayanan jasa di bidang teknologi perikanan tangkap. Salah satu tugas BBPI Semarang adalah pengelolaan perikanan tangkap yang mensejahterakan dan berkelanjutan. Untuk memenuhi tugas tersebut BBPI Semarang bekerjasama dengan DJPT KKP mengadakan Webinar “ Tata Kelola Penangkapan Ikan yang Bertanggung Jawab dan Berkelanjutan “. Dalam webinar ini Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan – Rokhmin Dahuri, mengatakan meski secara makro ekonomi peran subsektor perikanan tangkap terhadap perkonomian nasional relatif rendah, yakni 1,6% terhadap PDB dan nilai ekspor hanya US$ 2 milyar pada 2019 namun, subsektor ini mampu menyerap sekitar 2 juta tenaga kerja langsung. Artinya, terdampat 1,7 juta orang nelayan laut dan 0,3 juta nelayan perairan umum pedalaman ( PUD ), serta sekitar 3 juta orang yang bekerja di industri hulu dan industri hilirnya. Potensi perikanan tangkap ini sangat besar karena sekitar 65% total asupan protein hewani rakyat Indonesia dari ikan dan seafood. Sedangkan dan ikan dan seafood yang berasal dari perikanan tangkap sekitar 60%. Dalam hal volume produksi, subsektor perikanan tangkap berkinerja sangat baik. Pada 1999, Indonesia merupakan produsen perikanan tangkap terbesar ke-6 di dunia. Pada 2004, Indonesia menjadi produsen terbesar ke-3 di dunia, dan sejak 2009 hingga kini menjadi produsen terbesar ke-2 di dunia. Indonesia memiliki potensi produksi lestari ( MSY) Sumber daya ikan terbesar di dunia yakni 15,57 juta ton per tahun. Dalam praktiknya, pentingnya menerapkan prinsip-prinsip manajemen perikanan tangkap yang mensejahterakan dan berkelanjutan. Adapun prinsip-prinsip manajemen perikanan tangkap adalah pertama, tingkat pemanfaatan sumber daya ikan ( SDI ) di suatu wilayah pengelolaan perikanan ( fishing ground ) maksimum 80% persen dari maximum sustainable yield ( MSY ). Jadi jangan pernah lebih menangkap ikan dari MSY. Nelayan atau aktivitas penangkapan ikan harus memaksimalkan total tangkapan yang diijinkan atau total allowable catch dengan menerapkan praktik penanganan terbaik ( best handling practices ), sistem manajemen mantai pasokan terintegrasi, pelabuhan perikanan ( tempat pendaratan ikan ) berkelas dunia, dan pengembangan industri pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Selama ini pelabuhan perikanan kita hanya menjadi tempat sandar kapal ikan, tidak menjadi bagian dari industri perikanan yang terintegrasi. Sistem bagi hasil antara pemilik kapal dengan anak buah kapal ( ABK ) harus adil. Pembagian kuota penangkapan dari volume total 80% MSY . Terkait program dan kebijakan yang harus dilakukan untuk mewujudkan perikanan tangkap berkelanjutan adalah pengurangan fishing effort ( kapal ikan, fishing gears, dan jumlah nelayan ) untuk setiap kelompok stok ikan berbasis WPP sampai unit wilayah yang lebih kecil ( zona penangkapan -1, 2, jurisdiksi perairan propinsi, dan ZEEI ). Harus ada peningkatan fishing effort untuk setiap kelompok stok ikan berbasis WPP sampai unit wilayah yang lebih kecil. Selain itu, penetapan alokasi TAC untuk setiap provinsi dalam suatu WPP, berdasarkan pada panjang garis pantai atau lainnya. Pengembangan armada Ocean Going Fisheries-RI yang kompetitif untuk beroperasi di International Waters ( beyond ZEEI ) juga harus dilakukan, juga modernisasi dan peningkatan kapasitas nelayan tradisional dengan penggunaan fishing technology yang lebih produktif, efisien, dan ramah lingkungan. Bukan hanya itu saja, nelayan harus menerapkan best handling practices, dan cold chain system, terutama untuk jenis-jenis ikan mahal. Perlu kerjasama dengan pihak-pihak terkait harus menjamin pasar ikan hasil tangkapan nelayan dengan harga yang menguntungkan nelayan, dan juga terjangkau oleh konsumen dalam negeri. Caranya, dengan membangun kemitraan antara upi dengan nelayan, yang mana ukuran kapasitas pabrik dengan jumlah ikan mesti sesuai.
