Social Risk Assessment – Program Perbaikan Budidaya Udang ( Shrimp Improvement Program/ SIP ) – 5 Januari 2026
Dalam rangka mendukung penerapan praktik industri udang yang berkelanjutan, Yayasan Sinergi Akuakultur Indonesia berkolaborasi dengan Konservasi Indonesia melalui dukungan dari Walmart Foundation melaksanakan Kegiatan Social Risk Assessment yang merupakan bagian dari Program Perbaikan Budidaya Udang (Shrimp Improvement Program/SIP) di Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan terhadap identifikasi, penilaian dan pengelolaan resiko sosial yang terkait dengan kegiatan usaha di industri udang, khususnya yang ada di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Yayasan Sinergi Akuakultur Indonesia berkolaborasi dengan Konservasi Indonesia dan POKJA / Tim Pelaksana Budidaya Udang Berkelanjutan Banyuwangi sedang menjalankan program perbaikan budidaya udang menuju keberlanjutan. Para pemangku kepentingan bersama-sama menyusun peta jalan untuk mencapai tujuan bersama dalam industri udang yang berkelanjutan. Salah satu keinginan dalam peta jalan tersebut adalah pemangku kepentingan mampu mengidentifikasi dan mengelola resiko sosial yang timbul dalam kegiatan usaha mereka melalui pendekatan Social Risk Assessment (SRA). Sehubungan dengan hal tersebut, YSAI berkeinginan mengadakan kegiatan “Workshop on Social Risk Assessment in Shrimp Aquaculture” dengan narasumber dari AP5I yaitu Saut Hutagalung – Ketua AP5I. Workshop ini dihadiri oleh Shrimp Club Indonesia (SCI), FORTEL, Petambak Intensif Banyuwangi, Petambak Tradisional Banyuwangi, Supplier Udang Banyuwangi, dan UPI di Banyuwangi yang juga merupakan anggota AP5I yaitu PT. Surya Adikumala Abadi, PT. Samudera Seafood Products, PT. Istana Cipta Sembada. Dalam sambutannya Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi – Suryono Bintang Samudra mengatakan sekitar 214.000 ton udang yang sudah di produksi di tahun 2025 dan 63,7% itu di pasarkan di Amerika. Posisi ekspor udang Indonesia di dunia hanya memberikan kontribusi sekitar 6% dalam perdagangan global. Persaingan pasar industri udang dunia saat ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari tiga besar pemasok udang. Sebagian besar udang Indonesia di impor ke Amerika Serikat dengan porsi kurang lebih 70% dari produk udang yang dihasilkan. Selama 20 tahun terakhir, tuntutan pasar global semakin menekankan pentingnya praktik-praktik keberlanjutan dalam makanan laut yang dihasilkan dari kegiatan budidaya, termasuk keberlanjutan sosial dan penerapan Human Rights Due Diligence di industri udang dari hulu ke hilir. Social Risk Assessment (SRA) merupakan pendekatan sistematis berbasis risiko yang digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memprioritaskan potensi risiko sosial yang timbul dari suatu kegiatan usaha di sepanjang rantai pasok. SRA bukan merupakan sertifikasi atau audit, melainkan alat pembelajaran yang mendukung pengelolaan risiko melalui penetapan prioritas mitigasi dan perbaikan berkelanjutan, guna memperkuat tata kelola sosial dan mendorong praktik usaha di industri udang yang bertanggung jawab. Workshop ini sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pemangku kepentingan industri udang di Banyuwangi dalam Mengidentifikasi dan mengelola risiko sosial; Mensosialisasikan prinsip, kerangka, dan metode SRA yang relevan dengan sektor akuakultur dan kondisi lokal Banyuwangi; Menegaskan pentingnya SRA sebagai bagian dari keberlanjutan usaha budidaya udang dan daya saing pasar internasional.
