News

Grand Launching Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Teknologi Budidaya Udang – 22 Januari 2026

Yayasan Pembudidaya Udang Nasional (YPUN) menggelar Grand Launching Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Teknologi Budidaya Udang, yang dirangkai dengan seminar dan diskusi panel bertema “Bersama Menuju Kebangkitan Kembali Budidaya Udang Indonesia”. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam penguatan sektor perikanan, khususnya budidaya udang, melalui pengembangan riset dan inovasi teknologi yang berkelanjutan. Pada kesempatan tersebut, dilakukan pula penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Teknologi Budidaya Udang dengan enam perguruan tinggi yaitu; Universitas Brawijaya – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Airlangga Surabaya, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam Universitas Airlangga Banyuwangi, Politeknik Kelautan dan Perikanan (PKP) Jembrana, Universitas Ronggolawe, dan Universitas Udayana. Dalam sambutannya, Asisten Administrasi Umum Pemkab Jembrana – Ni Nengah Wartini, menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Yayasan Pembudidaya Udang Nasional atas pembangunan laboratorium tersebut. Disebutkan, keberadaan laboratorium ini merupakan langkah strategis dan visioner dalam mendukung pengembangan sektor perikanan, khususnya budidaya udang di Kabupaten Jembrana. Pemerintah daerah berharap laboratorium ini tidak hanya menjadi pusat penelitian, tetapi juga wadah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan pembudidaya udang. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan dapat mendorong peningkatan inovasi teknologi budidaya udang serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para pembudidaya udang di Kabupaten Jembrana. Ketua YPUN yang juga sebagai Guru Besar Universitas Brawijaya – Maftuch, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberadaan laboratorium ini bukan sekadar simbol, melainkan alat perjuangan petambak untuk menghadapi tantangan budidaya modern. Acara kemudian dilanjutkan dengan Seminar teknologi budidaya dan diskusi panel yang menghadirkan; Andi Tamsil – Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI); Saut P. Hutagalung – Ketua Umum Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I); Deny Mulyono – Ketua Gabungan Perusahaan makanan Ternak (GPMT); Waiso – perwakilan Asosiasi Hatchery; Antonius Nugraha – Ketua Asosiasi Pengusaha Sarana Akuakultur Indonesia  (Aspakindo). Diskusi mengerucut pada satu pesan utama: industri udang Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada pendekatan lama, terutama yang masih bersinggungan dengan penggunaan antibiotika. Puncak acara ditandai dengan Deklarasi Jembrana, sebuah pernyataan sikap bersama tentang pelarangan penggunaan antibiotika dalam industri udang nasional. Melalui Deklarasi Jembrana, para pelaku industri udang nasional menyatakan komitmen untuk:

1. Tidak menggunakan antibiotika dan turunannya dalam seluruh tahapan produksi udang, mulai dari pembenihan, pembesaran, hingga pascapanen.
2. Tidak menggunakan sarana produksi, obat, bahan kimia, dan probiotik yang tidak terdaftar resmi di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
3. Mendorong KKP untuk melakukan penyesuaian regulasi terkait pelarangan seluruh jenis antibiotika dan turunannya dalam industri udang.

Deklarasi ini ditandatangani oleh seluruh panelis sebagai bentuk tanggung jawab bersama demi keberlanjutan dan kejayaan industri udang Indonesia.

Tinggalkan Balasan