Seafood Traceability Technical and Industry Engagement Workshop – 8 s.d 9 April 2026
Dalam rangka penguatan digitalisasi sistem ketertelusuran produk perikanan nasional serta penyelarasan dengan ekspektasi pasar global, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) dan Global Dialogue on Seafood Traceability (GDST) mengadakan Seafood Traceability Technical and Industry Engagement Workshop. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat implementasi platform Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional (STELINA), mendorong adopsi standar ketertelusuran global, serta meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan penyedia teknologi ketertelusuran. Selain itu kegiatan ini bertujuan menyelaraskan pemahaman teknis antara pemerintah dan pelaku usaha mengenai pentingnya sistem ketertelusuran dalam memenangkan kepercayaan pembeli internasional. Khususnya pada rantai pasok tuna, rajungan, dan udang. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak para pengusaha perikanan mulai menggunakan STELINA atau Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional agar ikan hasil tangkapan lebih mudah masuk dan bersaing di pasar global. Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan – Didit Herdiawan Ashaf menjelaskan kriteria produk unggulan di pasar internasional telah bergeser. Saat ini, kualitas fisik saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan bukti legalitas dan keberlanjutan. Produk perikanan yang dibutuhkan saat ini bukan lagi sekadar produk yang berkualitas, tetapi juga yang berasal dari rantai pasok yang legal, transparan, tertelusur, serta menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Seiring dengan meningkatnya kesadaran lingkungan, konsumen global kini menuntut informasi detail mengenai asal-usul produk, metode penangkapan, hingga dampak budidaya terhadap ekosistem. Stelina, hadir sebagai instrumen untuk merekam setiap tahapan perjalanan ikan secara transparan. Sistem pelacakan ini juga akan diterapkan pada Kampung Nelayan Merah Putih agar hasil tangkapan nelayan di desa-desa tidak hanya laku di pasar lokal, tetapi juga punya profil ketertelusuran yang jelas agar mampu menembus pasar ekspor. Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Machmud menjelaskan Stelina bekerja dengan basis interoperabilitas antarsistem. Produk akhirnya berupa teknologi QR Code yang merangkum data dari hulu hingga hilir. Sistem ini memberikan gambaran menyeluruh kepada konsumen dan sekaligus menepis isu negatif bahwa produk perikanan Indonesia berasal dari praktik illegal fishing atau cara-cara yang merusak lingkungan.
