News

FGD Distribusi dan Transportasi Hasil Perikanan Moda Transportasi Udara Tujuan Ekspor – 8 Desember 2022

Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi rantai distribusi dan perluasan akses produk perikanan ke luar negeri melalui Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan mengadakan Focus Group Discussion ( FGD ) Distribusi dan Transportasi Hasil Perikanan menggunakan Moda Transportasi Udara untuk Tujuan Ekspor. Isu stategis saat ini bahwa pola makan orang-orang, beralih dari red meat ke white meat, ini membuka peluang terhadap tingkat konsumsi perikanan pada negara-negara di dunia.  Sebagai negara kepulauan terbesar dengan potensi sumber daya perikanan terbesar di dunia, mendorong pertumbuhan perekonomian dapat dilakukan melalui peningkatan ekspor hasil perikanan bersamaan dengan peningkatan sektor transportasi, khususnya transportasi udara yang menawarkan waktu tempuh yang lebih cepat. Sektor transportasi udara dinilai dapat berperan banyak sebagai jembatan yang menghubungkan produksi tangkapan perikanan di dalam negeri dengan pasar potensial di luar negeri. Namun demikian, bandara internasional yang tersebar di seluruh Indonesia yang dinilai mampu untuk mendukung hal tersebut dengan jumlah cukup banyak masih belum memiliki peran yang merata. Hal ini mengakibatkan pelabuhan perikanan yang berjumlah 538 dengan potensi produksi yang sangat besar secara kumulatif hanya mengandalkan bandara yang memiliki akses jaringan dan rute terbaik untuk kegiatan ekspornya. Kegiatan ekspor hasil perikanan tangkap dari berbagai wilayah di Indonesia sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Pulau Jawa yaitu di Bandara Soekarno-Hatta ( CGK ). Hal ini tentu saja dapat membebani proses distribusi dan ekspor apabila sebagian besar hasil perikanan cenderung ditujukan kepada 1 atau 2 bandara internasional saja. Beban tersebut antara lain adalah jenuhnya kapasitas yang ada dan panjangnya perjalanan yang dilakukan mengingat lokasi Jakarta yang jauh dari pasar potensial luar negeri seperti negara-negara di kawasan Asia Timur dan Amerika Utara. Untuk itu perlu adanya rekomendasi Bandara Internasional di wilayah Indonesia selain CGK untuk dijadikan fasilitas pengiriman ekspor. Perlu adanya maskapai penerbangan yang mengoperasikan pesawat khusus kargo/freighter dapat diprioritaskan dalam rangka optimalisasi pengangkutan kargo udara untuk hasil perikanan tangkap. Diperlukan koordinasi antar stakeholder yang memiliki kepentingan terhadap pemenuhan demand dan penyediaan supply terkait proses pengangkutan hasil perikanan tangkap dengan menggunakan pesawat udara. Hasil perikanan tangkap yang memiliki nilai jual tinggi karena sensitifitas waktu, alternatif moda transportasi yaitu seaplane atau Wing in Ground ( WIG ) craft untuk pengangkutan dari pelabuhan perikanan menuju bandara.

Tinggalkan Balasan