News

Seminar Daring “Strategi Diversifikasi dan Adaptasi Produk Ekspor Makanan Olahan di Saat Krisis Pandemi Covid-19” – 14 Mei 2020

Untuk meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di tengah pandemi covid-19, Kementerian Perdagangan menyelenggarakan Seminar Daring “Strategi Diversifikasi dan Adaptasi Produk Ekspor Makanan Olahan di Saat Krisis Pandemi Covid-19”. Seminar dibuka oleh Direktur Pengembangan Produk EksporAri Satria. Kegiatan ini merupakan kerjasama Kementerian Perdagangan dengan pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah. Kinerja perdagangan ekspor makanan olahan periode Jan – Feb 2020 mencapai US$ 609,24 juta, meningkat 9,69% dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai USD 555,42 juta. Lima produk ekspor terbesar makanan olahan Indonesia adalah :

  • Olahan ekstrak kopi (10,35%)
  • Produk olahan ikan (9,91 %)
  • Wafel & Wafer (7,78%)
  • Olahan Udang (7,47%)
  • Bahan makanan lainnya (9,40%)

Tantangan Perdagangan dengan terjadinya pandemi covid-19 :

  • Trend melesatnya Digitalisasi.

Konsumen mengurangi keluar rumah dan interaksi secara langsung, sehingga cenderung melakukan pembelian melalui situs online. Tantangan kemampuan pemasaran melalui online, dukungan infrastruktur digital, dll.

  • Proteksionisme dan De-Globalisasi.

Melemahnya perekonomian, meningkatnya hambatan proteksi dari negara mitra dagang.

  • Peningkatan Perhatian Konsumen terhadap Kebersihan Produk.
  • Peningkatan Perhatian Keamanan Pangan.

Makanan olahan menjadi alternatif pilihan yang banyak di cari oleh masyarakat karena umur simpan yang lebih lama dibandingkan pangan segar.

Dengan adanya pandemi covid-19 banyak hal yang harus dilakukan untuk bisa bertahan, salah satunya harus mampu melakukan terobosan dan mencari celah  dan ceruk lain untuk pasar yang ada. Salah satunya adalah melakukan diversifikasi usaha. Diharapkan diversifikasi usaha yang tepat dan terukur akan mampu menaikkan atau mempertahankan kinerja industry pengolahan termasuk pengolahan perikanan. Kuncinya adalah mengidentifikasi peluang dengan tepat, celah atau ceruk pasar yang ada dengan mengembangkan usaha atau produk baru. Dengan terjadinya pandemic covid-19 ini terjadi perubahan dimana saat ini konsumen banyak lebih memilih melakukan pembelian ke makanan beku (frozen food) dan siap saji ( ready to cook dan ready to eat ). Mengingat konsumen cenderung enggan untuk mengonsumsi produk makanan langsung karena takut tertular covid-19. Makanan olahan merupakan sektor yang dinilai dapat bertahan di era pandemi covid-19 dan para pelaku usaha dituntut bergerak cepat mengadaptasi perubahan pola konsumsi konsumen di pasar ekspor.

Tinggalkan Balasan