FGD PROPER – 17 Maret 2021

Sehubungan dengan telah terbitnya SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No. SK 460/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2020 tentang Hasil Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup ( PROPER ) Tahun 2019 – 2020. Saat ini capaian proper tahun 2020 yang masuk kategori hitam 0,10% ( 2 perusahaan ), merah 11,43% ( 233 perusahaan ), biru 79,93% ( 1.629 perusahaan, hijau 6,13% ( 125 perusahaan ), dan emas 1,57% ( 32 perusahaan ). Penilaian kinerja pengelolaan lingkungan suatu kegiatan industri memerlukan indikator yang terukur. Hal inilah yang diterapkan oleh pemerintah dengan tujuan meningkatkan peran perusahaan dalam melakukan pengelolaan lingkungan sekaligus menimbulkan efek stimulan dalam pemenuhan regulasi lingkungan dan nilai tambah terhadap pemeliharaan sumber daya alam, konservasi energi dan community development. Proper didesain untuk mendorong penatan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan melalui instrumen insentif dan disinsentif. Insentif dalam bentuk penyebarluasan kepada publik tentang reputasi atau citra baik bagi perusahaan yang mempunyai kinerja pengelolaan lingkungan yang baik. Ini ditandai dengan label Biru, Hijau dan Emas. Disinsentif dalam bentuk penyebarluasan reputasi atau citra buruk bagi perusahaan yang mempunyai kinerja pengelolaan lingkungan yang tidak baik. Ini ditandai dengan label Merah dan Hitam. Ada beberapa faktor dalam menginisiasi pembentukan proper, diantaranya :

  • Tingkat penataan perusahaan yang rendah, karena instumen penataan yang ada dirasa belum efektif
  • Tuntutan transparansi dan keterlibatan publik dalam pengelolaan lingkungan, meningkat
  • Terdapat kebutuhan insentif terhadap upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan dalam menciptakan nilai tambah pengelolaan lingkungan
  • Terdapat potensi peningkatan kinerja penataan melalui penyebaran informasi

Proper telah mendapat pujian oleh berbagai pihak termasuk Bank Dunia dan menjadi salah satu bahan studi kasus oleh Harvard Institute for International Development. Negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika telah menjadikan proper sebagai contoh dalam instrumen penataan alternatif lingkungan. Selain itu, proper juga telah mendapatkan Penghargaan Zero Emission Award dari United Nation University di Tokyo pada tahun 1996. Kriteria penilaian proper terdiri dari dua kategori, ialah kriteria penilaian ketaatan dan kriteria penilaian lanjutan dari yang dipersyaratkan dalam peraturan ( beyond compliance ). Pada kriteria penilaian ketaatan, pertanyaan sederhana dan umum lebih diutamakan. Mencakup pertanyaan seberapa besar ketaatan sebuah perusahaan terhadap peraturan lingkungan hidup. Peraturan lingkungan hidup yang digunakan sebagai dasar penilaian saat ini ialah peraturan yang berkaitan dan bersinggungan dengan :

  • Persyaratan dokumen mengenai lingkungan dan pelaporannya
  • Pengendalian pencemaran air
  • Pengendalian pencemaran udara
  • Pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)
  • Pengendalian pencemaran air laut
  • Potensi kerusakan lahan

Pada kriteria penilaian Beyond Compliance yang lebih bersifat dinamis karena disesuaikan dengan perkembangan teknologi, penerapan praktik pengelolaan lingkungan terbaik dan isu lingkungan yang bersifat global diterapkan. Penyusunan kriteria terkait dengan pelaksanaan proper dilakukan langsung oleh tim teknis melalui pertimbangan masukan dari pihak berikut; pemerintah kabupaten/kotamadya, asosiasi industri, perusahaan, LSM, Universitas, instansi, serta dewan pertimbangan. Aspek yang dinilai mencakup :

  • Penerapan sistem manajemen lingkungan
  • Upaya efisiensi energi mencakup empat ruang lingkup efisiensi energi
  • Upaya penurunan emisi
  • Implementasi Reduce, Reuse, Recycle limbah B3
  • Implementasi Reduce, Reuse, Recycle limbah padat non B3 yang memiliki kriteria sama dengan poin sebelumnya
  • Konservasi air dan penurunan beban pencemaran air limbah
  • Perlindungan keanekaragaman hayati
  • Program Pengembangan Masyarakat

Melalui mekanisme tersebut, selanjutnya perusahaan peserta penilaian proper akan diberikan peringkat kinerja usaha dan atau kegiatan. Peringkat tersebut disimbolkan menggunakan warna agar memudahkan penyerapan informasi oleh masyarakat. Kriteria peringkat proper terdiri dari :

Peringkat emas diberikan kepada perusahaan / usaha dan kegiatan yang secara konsisten telah menunjukkan keunggulan lingkungannya dalam proses produksi / jasa, melaksanakan etika bisnis serta bertanggung jawab atas masyarakat di sekitarnya.

  • Peringkat hijau diberikan kepada perusahaan / usaha dan kegiatan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari persyaratan dalam peraturan melalui pelaksanaan sistem pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumber daya secara efisien dan upaya pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan secara baik dan konsisten.
  • Peringkat biru diberikan kepada perusahaan / usaha dan kegiatan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan sesuai dengan ketentuan pada Undang-Undang yang berlaku.
  • Peringkat merah diberikan kepada perusahaan / usaha dan kegiatan yang upaya pengelolaan lingkungannya belum sesuai dengan persyaratan dalam Undang-Undang yang berlaku.
  • Peringkat hitam diberikan kepada perusahaan / usaha dan kegiatan yang sengaja melakukan perbuatan atau kelalaian dan dapat berakibat pencemaran atau kerusakan lingkungan serta pelanggaran terhadap Undang-Undang yang berlaku ataupun tidak melaksanakan sanksi administrasi.

Proper dilaksanakan untuk menyelamatkan lingkungan dari kerusakan kegiatan produksi sebuah usaha bisnis. Selain itu, proper juga dibentuk untuk mendorong penataan perusahaan dalam pengolahan lingkungan melalui instrumen insentif berupa penyebarluasan kepada publik mengenai reputasi dan citra baik perusahaan yang memiliki kinerja pengolahan lingkungan yang baik. Ditandai dengan adanya peringkat biru, hijau dan emas. Proper merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan dapat menggunakan informasi peringkat proper sebagai benchmark untuk mengukur kinerja perusahaan. Untuk perusahaan yang mendapatkan peringkat hijau dan emas, proper dapat digunakan sebagai media promosi perusahaan. Karena perusahaan yang mendapatkan peringkat hijau dan emas, sudah pasti memiliki reputasi pengolahan lingkungan yang baik. Proper juga dapat digunakan sebagai motivasi perusahaan untuk melakukan upaya pengolahan lingkungan lebih baik lagi. Masyarakat juga dapat menggunakan proper sebagai media untuk mengetahui kinerja penataan perusahaan. Investor dapat menggunakan proper sebagai pengukur tingkat resiko investasi mereka. Konsultan dan pemasok dapat menggunakan informasi proper untuk mencari peluang bisnis yang ada. Informasi proper yang dimiliki perusahaan dapat menunjukkan seberapa besar tingkat tanggung jawab sebuah perusahaan bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu, penting kiranya perusahaan meningkatkan peringkat propernya. Karena reputasi perusahaan dapat dipertaruhkan melalui peringkat proper yang didapatkan perusahaan tersebut.

Tinggalkan Balasan