News

Side Event Road to O20 : ” Ekonomi Biru ” – 20 Oktober 2022

Sehubungan dengan akan diadakannya acara Side Event Road to O20 “ Ekonomi Biru Berbasis Ilmu Pengetahuan; Dampak Ekonomi dari Keterkaitan Biologi antara Kawasan Konservasi dengan Sumber Daya Perikanan pada WPP 714 dan 715 sebagai bagian dari pelaksanaan rangkaian acara G20, Pusat Riset Konservasi Sumber Daya Laut dan Perairan Darat – Badan Riset dan Inovasi Nasional mengadakan Side Events Road to O20.  Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia bergantung dengan makanan laut ( seafood ) untuk penghidupan dan ketahanan pangan. Indonesia adalah negara produsen perikanan terbesar kedua di dunia. Indonesia adalah negara yang memegang peran penting dalam budidaya udang dan ekspor tuna, berkontribusi atas 45% dari produksi ikan kakap global dan eksportir rumput laut terbesar. Industri perikanan berkontribusi atas 7 juta pekerjaan dan 2,6% produk domestik bruto ( USD 26,9 milyar ). Lebih lanjut, sector makanan laut Indonesia berkontribusi pada 54% dari konsumsi protein nasional, dibandingkan dengan rata-rata dunia sebesar 20%. Akan tetapi, hingga saat ini, perikanan tangkap Indonesia belum dikelola secara optimal sehingga menyebabkan 38% dari perikanan Indonesia mengalami eksploitasi berlebih dan 44%nya sudah sepenuhnya tereksploitasi. Tanpa manajemen perikanan yang layak, besar kemungkinan Indonesia tidak lagi memimpin produksi makanan laut dunia. Berkurangnya tangkapan dan produksi makanan laut secara signifikan berpengaruh terhadap masyarakat pesisir dan jutaan masyarakat Indonesia yang bergantung pada industry perikanan. Untuk melindungi sumberdaya kelautan ini, Pemerintah Indonesia berkomitmen dalam mengimplementasikan Ekonomi Biru yang berkelanjutan melalui Peraturan Presiden No. 16 tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ( RPJMN ), dan Kerangka Ekonomi Biru Bappenas untuk transformasi ekonomi Indonesia. Kerangka Ekonomi Biru mengharuskan keseimbangan antara produksi dan proteksi. Untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya penghidupan di sector kelautan ( perikanan, wisata laut, dan lain-lain ), Pemerintah Indonesia harus menyediakan laut yang sehat dan berkelanjutan. Kerjasama penelitian terbaru antara Universitas Pattimura ( UNPATTI ) dan Konservasi Indonesia ( KI ) bertujuan untuk membuktikan adanya keterkaitan biologi dan lingkungan antara sumberdaya perikanan dikawasan konservasi perairan dengan daerah penangkapan ikan di luar Kawasan konservasi. Penelitian ini dilakukan di Wilayah Pengelolaan Perikanan ( WPP ) 714 dan 715 untuk menggambarkan efektivitas pengelolaan Kawasan konservasi perairan dalam mengembangkan perikanan. Pelaksana Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ( Kemkomarves ) – Mochammad Firman Hidayat mengatakan ilmu pengetahuan dan teknologi ( iptek ) dan inovasi menjadi salah satu prioritas untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan potensi kelautan bagi peningkatan ekonomi Indonesia. Kalau Indonesia ingin memanfaatkan potensi kelautan, mau tidak mau harus mengembangkan human capitalresearchknowledge dan technology kita. Basis iptek dan inovasi yang kuat harus menjadi salah satu prioritas untuk mencapai visi Indonesia 2045 yakni menjadi negara berpendapatan tinggi dan pusat peradaban maritim dunia. Semakin tinggi penggunaan teknologi terkait kelautan maka PDB per kapita suatu negara juga semakin tinggi. Kegiatan riset dan inovasi tidak semata-mata hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan melainkan juga pada aspek komersialisasi. Inovasi bukan hanya science ( ilmu pengetahuan ) tapi juga punya potensi untuk komersialisasi yang besar jadi nilai ekonominya juga besar. Jangan berhenti pada penelitian saja tapi ini bisa kita jadikan investasi di sektor swasta. Hasil atau output kegiatan riset dan inovasi dapat berupa antara lain pemetaan dasar laut yang bisa dimanfaatkan untuk eksplorasi dan eksploitasi mineral dasar laut. Hasil survei geologi/geomorfologi bisa digunakan untuk memprediksi cuaca bagi optimalisasi rute penangkapan ikan. Asesmen ekosistem/biodiversitas dapat dimanfaatkan untuk inovasi bioteknologi atau pengembangan analisis big data sebagai alat dan jasa. Banyak sekali potensi-potensi riset yang tidak hanya berhenti sekadar tataran akademis tetapi juga punya nilai ekonomi dan komersial. Selain itu, basis ilmu pengetahuan dan data ilmiah juga menjadi penting untuk menetapkan kebijakan yang efektif. Kalau tidak punya basis data, basis informasi dan pengetahuan, tidak mungkin kita bisa mendesain kebijakan yang efektif. Sementara Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ) – Ocky Karna Radjasa mengatakan BRIN mendukung dan melakukan kegiatan riset dan inovasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui optimalisasi potensi kelautan dan perikanan. BRIN juga melakukan riset dan inovasi untuk upaya konservasi, restorasi, dan perbaikan ekosistem sehingga pemanfaatan laut menjadi berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan