News

Temu Stakeholder Akuakultur – 2 Maret 2021

Untuk mewujudkan sinergitas dan kolaborasi program-program antara stakeholder Akuakultur dan Masyarakat Akuakultur Indonesia ( MAI ) mengadakan Rapat Kerja Nasional ( Rakernas ) I secara virtual melalui aplikasi zoom. Rakernas yang dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan – Sakti Wahyu Trenggono mengatakan dalam sambutannya bahwa KKP melakukan terobosan yang bertujuan menjaga sumber daya alam perikanan Indonesia. Salah satunya dengan mengembangkan perikanan budidaya yang didukung oleh kajian ilmiah dan perencanaan bisnis yang matang. Langkah ini sekaligus untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan menambah pendapatan negara. Seperti yang diketahui, perikanan budidaya mendapat perhatian Presiden Joko Widodo, dan KKP mendapat mandat untuk mengoptimalkan produksi perikanan budidaya sebanding dengan potensi yang dimiliki. Pada kegiatan yang dihadiri para stakeholder bidang akuakultur tersebut, Menteri Trengggono memaparkan ada dua terobosan terkait perikanan budidaya. Pertama, KKP fokus pada produk ekspor komoditas unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi, yaitu udang, lobster, dan rumput laut. Komoditas udang dipilih menjadi prioritas berdasarkan data ekspor tahun 2020 volume ekspor udang Indonesia mencapai 239.227 ton dengan nilai USD 2,04 miliar. Untuk peningkatan produksi dan ekspor udang, KKP akan memfasilitasi pengembangan shrimp estate yakni sistem budidaya dengan skala intensif, dengan target produksi berkisar 40 ton per hektare per tahun. Komoditas lainnya yaitu lobster dengan volume ekspor tahun 2020 mencapai 2.022 ton dengan nilai USD 75,25 juta. Lobster dikembangkan melalui korporasi budidaya yang diharapkan dampaknya dapat menyentuh masyarakat, salah satu strategi yang dilaksanakan adalah membuat suatu model kawasan budidaya lobster. Selanjutnya komoditas rumput laut, Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua setelah China, dengan volume ekspor tahun 2020 sebesar 195.574 ton dengan nilai mencapai USD 279,58 juta. KKP mengupayakan pembinaan dan sosialisasi kepada masyarakat dengan menggalakkan penggunaan bibit kultur jaringan, pembangunan kebun bibit, penyaluran penjemuran rumput laut, dan penyediaan gudang rumput laut yang menerapkan Sistem Resi Gudang. Sementara dari aspek hilir, akan dibangun pabrik pengolahan rumput laut, sehingga dapat mendorong ekspor produk turunan rumput laut. Terobosan kedua yakni pengembangan kampung budidaya dengan konsep Corporate Farming. Kampung perikanan budidaya ini mensinergikan berbagai potensi untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha perikanan budidaya, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah. Beberapa yang dikembangkan adalah kampung bioflok lele, kampung bioflok nila, kampung kerapu, kampung kakap putih, kampung lobster, kampung rumput laut, kampung patin, kampung lobster dan kampung ikan hias. Akuakultur adalah jawaban untuk membangun sektor perikanan Indonesia yang memiliki aspek pembangunan yang terdiri dari teknologi yang menjadi motor, lingkungan, sosial ekonomi dan pasar yang menjadi pertimbangan komoditas unggulan. Dimana keterlibatan stakeholder perikanan budidaya berperan penting dalam mencapai kesejahteraan pelaku usaha budidaya. Ketua Umum MAI – Rokhmin Dahuri mendukung langkah konkret KKP dalam mengembangkan sektor perikanan budidaya. Rokhmin juga memberikan saran mengenai komoditas lain yang memiliki nilai tinggi untuk peningkatan perikanan budidaya. Kebijakan  Menteri KKP mengenai perikanan budidaya sangat konkret dan MAI akan mendukung, namun ada saran dari MAI untuk menambahkan kerapu, kepiting, kakap dan nila, karena demand internasional untuk ekspor sangat tinggi.

Tinggalkan Balasan