Webinar Sustainability Trends in Indonesia’s Food and Beverage Industry – 31 Maret 2022

Keberlanjutan adalah masalah utama bagi sebagian besar perusahaan makanan dan minuman, karena permintaan konsumen untuk ketertelusuran produk dan visibilitas meningkat dari hari ke hari. Pelanggan saat ini perlu tahu asal-usulnya dan jejak lingkungan dari semua bahan yang mereka konsumsi, dan pengecer pada gilirannya memberikan keharusan kepada industri produksi makanan dan minuman. Industri saat ini menerapkan suatu standard yang memungkinkan transparansi penuh baik di hulu maupun hilir, dengan cepat untuk memenuhi permintaan dan menunjukkan asalnya, konsumen sendiri menuntut proses pengolahan yang ” lebih hijau “. Sehubungan dengan hal tersebut Pamerindo mengadakan Webinar “ Sustainability Trends in Indonesia’s Food and Beverage Industry “ yang diikuti oleh 100 peserta dari berbagai industri pengolahan makanan dan minuman untuk mendapatkan  pengetahuan dan wawasan tentang trend utama di industri food and beverage Indonesia, dari keberlanjutan, otomatisasi proses, higene dan standar yang lebih baik, rantai pasokan, dll. Untuk pasar ekspor saat ini standar kualitas yang diminta buyer semakin tinggi dimana negara pembeli semakin ketat berkaitan dengan SPS ( Sanitary & Phytosanitary ). Sedangkan untuk pasar dalam negeri ( lokal ) konsumen di pasar domestik belum terlalu menganggap penting isu sustainability, konsumen lebih concern kepada harga dan quality. Untuk itu perlu dibuat sistem penjaminan/labeling yang menjamin quality dan sustainability terutama untuk produk perikanan. Kondisi pasar lokal saat ini untuk pasar ritel ( konsumen akhir ) melalui retailer besar ( modern market ), retailer kecil, penjualan online tumbuh pesat. Permintaan produk – produk olahan value added terutama siap saji  dan siap masak ( ready to eat/ ready to cooked ) meningkat dengan  pesat. Saat ini UPI ( Unit Pengolahan Ikan ) yang mampu bertahan dan bisa  berkembang dalam masa pandemi  covid-19 adalah UPI yang mampu  melakukan “ switching ” dari pasar food  service, memperbanyak penjualan ke  pasar ritel terutama produk value added ( ready to cooked/ready to eat ). Untuk industri HOREKA saat ini masih bergantung pada perkembangan pengendalian covid-19. Sebagai antisipasinya penjualan produk restoran dan kafe saat ini lebih banyak dikontribusikan dari pesana yang dibawa pulang ( take away ), namun penjualan secara take away tetap belum bisa menutupi kehilangan potensi pendapatan dari penjualan secara makan/minum di tempat ( dine in ). Untuk mempertahankan eksistensi banyak restoran melakukan langkah shifting dari bisnis luring menuju daring. Strategi ini ditujukan sebagai upaya menjepmut bola yang sangat berbeda dari kondisi dulu saat sebelum ada pendemi. Langkah ini juga dilakukan untuk menyiasati beragam kebijakan pembatasan operasional di restoran yang masih berlaku selama pandemic belum benar-benar tuntas. Selain itu perlu dilakukan juga penetrasi pasar makanan beku, agar konsumen bisa menikmati produk dimana dan kapan saja. Untuk meningkatkan efisiensi proses bisnis pada periode sulit ini, dengan menggalakkan layana pesan antar hingga penjualan online agar bisnis bisa terus bergerak.

Tinggalkan Balasan