Strategi Pembangunan Ekonomi Daerah yang Progresif, Inklusif, Resilience, dan Sustainable ( Regional Growth Strategy )
10 Mei 2017, Dalam rangka pelaksanaan riset Strategi Pembangunan Ekonomi Daerah yang Progresif, Inklusif, Resilience, dan Sustainable ( Regional Growth Strategy ), Bank Indonesia menyelenggarakan FGD dengan tema “ Assesmen Kinerja, Permasalahan, Tantangan, dan Prospek Pengembangan Perikanan Budidaya ( Akuakultur ) dalam rangka Mendukung Pembangunan Ekonomi Nasional “. FGD ini bertujuan untuk membahas kinerja, permasalahan, tantangan dan prospek perikanan budidaya ( akuakultur ) untuk mendukung pengembangan industri perikanan nasional beserta strategi kebijakan yang pada gilirannya dapat mengakselerasi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Permasalahan utama yang selama ini kita dengar dari petambak adalah bank masih meminta agunan lain diluar tambak dengan nilai yang cukup besar, padahal banyak petambak yang asetnya hanya tambak yang mereka miliki. Pihak perbankan sering kali menilai aset tambak hanya berdasarkan nilai NJOP tanah yang dipakai untuk tambak tsb yang nilainya sangat kecil. Sebagai contoh untuk membuat 1 Hektar tambak udang petambak tsb sudah menghabiskan dana sekitar Rp 2 Milyar untuk pembuatan tambak dan peralatannya, NJOP tanah untuk tambak tersebut hanya sekitar Rp 100-200 juta saja, kalau perbankan hanya menilai NJOP tanah maka nilainya sangat jauh dari investasi yang sudah dikeluarkan. Sebagai jalan keluar disarankan agar perbankan menggunakan advisor yang mengerti tentang tehnis budidaya untuk memperkirakan aset suatu tambak. Selain itu untuk mengurangi resiko dalam menghadapi kegagalan panen, sebaiknya pihak perbankan menggunakan jasa asuransi budidaya. Untuk itu diperlukan perusahaan asuransi budidaya yang preminya tidak terlalu mahal sehingga tidak memberatkan petambak.