News

Diseminasi Hasil Riset Hibah Dikti 2018 s.d 2019 – 10 Juni 2020

Universitas BINUS mengadakan Diseminasi Hasil Riset Hibah Dikti 2018 – 2019 mengenai “ Pemetaan Faktor Pendukung dan Penghambat Peningkatan Konsumsi Ikan di Indonesia diberbagai Segmen Konsumen Berbasis Perilaku “. Penelitian ini dilakukan oleh Amalia E Maulana dan Deva P. Setiawan selaku lecturer Universitas Binus. Walaupun menyandang predikat sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, konsumsi ikan di Indonesia masih terbilang rendah dibandingakan dengan negara lain di ASEAN. Tahun 2020 s/d 2024, KKP menargetkan peningkatan angka konsumsi ikan nasional dari 56,39 kg/kapita/tahun ditahun 2020 menjadi 62,50 kg/kapita/tahun ditahun 2024. Hal ini berarti, pada periode tersebut KKP merencanakan peningkatan Angka Konsumsi Ikan sebesar 6,11 kg/kapita/tahun., Rendahnya konsumsi ikan masyarakat Indonesia disebabkan oleh beberapa hal, pertama, preferensi konsumen yang cenderung untuk memilih konsumsi daging, pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian ilmiah yang mengindikasikan bahwa ikan merupakan produk substitusi daging ayam atau daging sapi. Kedua, daya beli sebagian besar masyarakat Indonesia masih rendah sehingga konsumsi akan lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat sebagai sumber energi. Ketiga, buruknya sistem distribusi ikan nasional yang membuat ikan segar dengan kualitas baik hanya bisa dikonsumsi oleh sebagian kecil masyarakat. Keempat keengganan masyarakat untuk mengkonsumsi ikan dikarenakan “ ribet “. Hasil dari penelitian ini yang dilakukan dengan cara Netnografi, Observasi, Day-to-day in life, Wawancara, dan Focus Group Discussion, mendapatkan kesimpulan bahwa berbagai hambatan yang muncul pada setiap tahap perjalanan harian konsumen merupakan serangkaian hambatan berlapis yang hierarkis. Satu hambatan tidak bisa diselesaikan sebelum hambatan di tier sebelumnya diselesaikan. Penyelesaian masalah dengan strategi komunikasi pemasaran biasa tidak akan menghasilkan peningkatan konsumsi ikan yang signifikan.

10 Juni

KKP pun sejak 2004 menggalakkan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan ( Gemarikan ) untuk meningkatkan konsumsi ikan. Namun program GEMARIKAN, saat ini masih didesain secara GENERIK, tidak melalui proses pemahaman hambatan adopsi didaerah, misalkan melalui kompetisi memasak resep ikan, bertujuan untuk mengatasi hambatan adopsi dengan menyediakan banyak pilihan resep baru bagi konsumen. Namun hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa program tersebut tidak efektif karena konsumen masih dibiarkan masih dibiarkan dengan hambatan adopsi dalam konsumsi ikan di rumah.  Diharapkan dengan peningkatan konsumsi ikan yang menjadi salah satu sumber protein tinggi, kualitas sumber daya manusia ( SDM ) juga meningkat.

Dari hasil penelitian ini berkembang juga mengenai “ Riset Tanggapan Konsumen terhadap Mislabeling Fillet Ikan Patin “. Patin merupakan salah satu komoditas perikanan yang didorong dan diunggulkan Pemerintah melalui KKP. Akan tetapi produksi dan konsumsi jenis ikan ini masih tergolong rendah sehingga perlu digali lebih dalam mengenai permasalahan konsumsi ikan tersebut. Berdasarkan studi content analysis melalui media online ditemukan bahwa terdeteksi beragam istilah atau penamaan terhadap ikan patin, diantaranya dory fish fillet, local dory fish fillet, patin fish fillet, dan pangasius fish fillet. Dari hasil penelitian tersebut sebagian konsumen mengetahui bagaimana bentuk asli ikan patin dan ikan dori, namun masih banyak yang masih keliru mengenai bentuk asli ikan pangasius. Hal ini juga sesuai dengan penelitian kualitatif sebelumnya dimana hasilnya adalah pengetahuan masyarakat akan pangasius masih lebih rendah disbanding dori. Untuk itu tindaklanjutnya sebaiknya KKP perlu menyelesaikan permasalahan dalam branding ikan patin. Hal ini jangan dibuat berlarut-larut karena consumer confusing bisa merusak persepsi dan ini harus ditangani dengan baik. Branding adalah sebuah proses dan proses yang baik akan membantu pemasaran jangka panjang. Semisal penggunaan branding patin untuk pasar lokal dan penggunaan branding pangasius untuk pasar ekspor.

Tinggalkan Balasan