Other News

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II – 2020

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II – 2020

Pandemi covid-19 menimbulkan goncangan ekonomi yang mengarah pada resesi global. Berbagai kebijakan yang dilakukan untuk menekan penyebaran covid-19, seperti penutupan sekolah dan beberapa kegiatan bisnis, pembatasan sosial berskala besar, bahkan lockdown mengakibatkan penurunan tingkat konsumsi dan investasi. Ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia terkontraksi sebagai akibat pembatasan aktivitas penduduk untuk mengendalikan penyebaran covid-19. Kepala Badan Pusat Statistik ( BPS )Suhariyanto mengatakan, faktor utama dari merosotnya perekonomian domestik adalah akibat pandemi covid-19. Krisis kesehatan ini merembet ke seluruh sektor ekonomi. Tak hanya itu, permintaan yang lemah juga menjadi salah satu faktor anjloknya perekonomian. Sementara pasokan melimpah.  BPS melaporkan, produk domestik bruto ( PDB ) RI pada kuartal II-2020 periode April – Juni 2020 terkontraksi -5,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu ( year-on-year/YoY ). Sementara dibandingkan kuartal sebelumnya ( quarter-to-quarter/QtQ ), PDB kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi -4,19%. Seperti yang sudah diduga, terjadi kontraksi alias pertumbuhan negatif. Dua kontraksi beruntun secara QtQ membuat Indonesia bisa dibilang sudah masuk ke fase resesi teknikal ( technical recession ). Pasalnya pada Kuartal I-2020 secara QtQ PDB Indonesia minus 2,41%. Pada semester I-2019, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh positif 5,06%. Pertumbuhan ekonomi Q2 2020 ini disebabkan oleh kontraksi di berbagai komponennya. Dari komponen pengeluaran misalnya. Konsumsi rumah tangga yang memiliki porsi 57,85% dari PDB tumbuh -5,51%. Pembentukan Modal tetap Bruto ( PMTB ) atau indikator investasi yang menyumbang 30,61% dari PDB juga -8,61%. Ekspor yang memegang porsi 15,69% PDB tumbuh -11,66%. Impor dengan porsi 15,52% tumbuh -16,96%. Konsumsi pemerintah dengan porsi 8,67% dari PDB tumbuh -6,9%. Konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga ( LNPRT ) dengan porsi 1,36% tumbuh -7,76%. Pada Q2 2020, BPS juga mencatat sebagian besar sektor mengalami pertumbuhan negatif. Beberapa yang masih positif antara lain informasi dan komunikasi, jasa keuangan, pertanian, real estate, jasa pendidikan, jasa kesehatan, dan pengadaan air. BPS mengumumkan dari 10 sektor industri nasional tujuh diantaranya babak belur dihantam virus Corona. Sementara tiga sisanya masih selamat atau masih mampu tumbuh meskipun tipis di kuartal II-2020 yaitu industri makanan dan minuman, industri kimia, farmasi dan obat tradisional, satu lagi industri logam dasar. Saat ini dengan masih terjadinya pandemi covid-19 di Indonesia dan juga dunia, Pemerintah mengambil langkah strategis, di satu sisi negara mengutamakan kesehatan dengan menerapkan lockdown, PSBB dan lainnya, di sisi lain pemerintah juga berupaya agar tingkat ekonomi berjalan. Dan untuk menyeimbangkannya bukan persoalan mudah.

Tinggalkan Balasan