Rapat Koordinasi Evaluasi Kinerja Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Triwulan I tahun 2021 – 27 s.d 29 Mei 2021
Dalam rangka evaluasi kinerja Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan, serta penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran tahun 2022, Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian mengadakan Rapat Koordinasi Evaluasi Kinerja Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Triwulan I tahun 2021, dan Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran tahun 2022. Rakor dipimpin oleh Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan – Supriadi. Perekonomian global pada Triwulan1-2021 menunjukkan perbaikan yang terlihat pada pergerakan indeks PMI global yang terus mengalami peningkatan dari bulan Januari ke bulan Maret. Hal ini sejalan dengan proses vaksinasi covid-19 di Indonesia yang telah dilakukan maupun sedang berlangsung di beberapa negara. Ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia pada Triwulan1-2021 telah menunjukkan pertumbuhan positif. Dalam prsentasinya Ahmad Heri Firdaus dari Centre for Industry, Trade and Investment INDEF mengatakan tantangan industri makanan terkait dengan ketersediaan bahan baku industri mamin masih banyak diimpor, hal ini dikarenakan ketersediaan dalam negeri tidak sesuai dengan spesifikasi kebutuhan industri, tidak mencukupi, tidak berdaya saing dan bersifat musiman. Permasalahan lainnya Industri hulu dan antara ( intermediate ) belum memadai. Tidak adanya sinkronisasi antara hilir dan hulu, termasuk kebijakan Pemerintah di lintas sector. Saat ini proses permohonan ijin bahan baku ( apabila impor ) masih panjang dan kadang tumpang tindih ( tidak diperlukan ), padahal tujuan Pemerintah menjaga keseimbangan dengan petani/nelayan/peternak lokal. Untuk itu perlu diperhatikan tantangan untuk memperkuat struktur industri pengolahan, termasuk industri agro sehingga dapat berdampak pada terkendalinya impor, meningkatkan utilisasi di tengah dan pasca pandemi. Meningkatkan kepastian terhadap pasokan bahan baku industri, stabilitas harga bahan baku dan konsistensi kualitas, salah satunya industri agro. Tentunya tantangan ekonomi global, gejala pemulihan mitra utama Indonesia berpotensi mendorong impor ke Indonesia. Saat ini ekonomi China terlihat sudah rebound, ada peluang dan tantangan untuk ekspor produk Indonesia ke China. Dengan situasi saat ini diperlukan juga penyediaan SDM yang memiliki skill memadai dan Penyediaan energi yang kompetitif. Tantangan lainnya adalah implementasi perdagangan bebas Comprehensive Economic Partnership Agreement ( CEPA ) ataupun bentuk kerja sama ekonomi lainnya. Untuk itu diperlukan strategi untuk memperkuat struktur industri makanan diantaranya :
• Memperkuat rantai pasok hulu-hilir
• Insentif fiscal dan non fiscal
• Insentif pajak bagi industri berbahan baku lokal
• Pembiayaan investasi
• Pembiayaan modal kerja
• Pembiayaan substitusi impor
• Membangun dan memperkuat kemitraan antara perusahaan dan pemasok bahan baku
• Membangun rantai pasok digital Dengan mendorong investasi di hulu dan industri antara dengan berbagai kebijakan yang menarik investor ( investasi di hulu membutuhkan payback period lebih panjang, biaya modal mahal, kendala lahan, keamanan, infrastruktur, dll ). Untuk itu fokus industrialisasi bernilai tambah dengan kebijakan hilir menjadi lokomotif pendorong ekonomi, diikuti kebijakan di hulu dengan Integrated Supply Chain. Konsep GVC diterapkan dengan mengutamakan nilai tambah di dalam negeri, membuka kesempatan kerja, dan meningkatkan daya saing. Dalam GVC, Pemerintah berperan dalam menjaga ketahanan industri dalam negeri dan membantu apabila ada masalah di negara tujuan ekspor karena adanya kebijakan “proteksi” seperti NTB, Tariff measure, dll. Hal lainnya diperlukan penyederhanaan proses ijin impor bahan baku ( bila diperlukan impor ) dengan tetap menjaga keseimbangan kepentingan petani/peternak/nelayan lokal.
