News

Penandatangan Nota Kesepahaman tentang Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Sistem Rantai Dingin ( Cold Chain System ) Perikanan di Indonesia – 15 Juli 2021

Menindaklanjuti rapat koordinasi penguatan hilirisasi industri perikanan melalui upaya peningkatan komoditi ekspor dan pemenuhan kebutuhan container berpendingin ( reefer container ) bagi produk perikanan, PT. Industri Kereta API ( INKA – Persero ) mengadakan acara penandatangan Nota Kesepahaman tentang Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Sistem Rantai Dingin ( Cold Chain System ) Perikanan di Indonesia. Melalui nota kesepahaman ini pemerintah berusaha mendorong kemajuan industri perikanan di Indonesia melalui berbagai inovasi dan teknologi, kajian yang komprehensif dari kalangan profesional dan nantinya mampu dibuat sebuah prototipe yang dapat digunakan dalam industri perikanan, khususnya terkait penyimpanan berpendingin yang statis ataupun movable atau dapat dipindahkan sesuai kebutuhan pasar. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ( Kemenko Marves ) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP ) sebagai pendukung utama kemajuan industri perikanan Indonesia, menyampaikan agar setelah penandatanganan ini dilaksanakan, Indonesia memiliki industri yang mampu bersaing di pasar dunia dengan menggunakan alat-alat produksi dalam negeri. Sistem rantai dingin di Indonesia perlu yang buatan dalam negeri, sampai sekarang Indonesia masih impor untuk reefer container yang ada. Oleh karena itu, untuk mendukung industri perikanan Indonesia yang lebih baik dan hemat pengeluaran, Deputi Bidang Sumber Daya Maritim Kemenko Marves – Safri Burhanuddin, secara virtual menjelaskan Kemenkomarves bekerja sama dengan pihak BUMN dari PT Industri Kereta Api ( PT Inka – Persero ) dan Universitas Brawijaya, serta usernya yaitu asosiasi profesi dan organisasi nirlaba dalam hal ini AP5I dan ARPI. Proses penandatanganan ini dilakukan oleh Kemenkomarves selaku pihak pemerintah yang mendorong agar industri perikanan ini berjalan, kemudian PT Inka Persero yang nantinya mampu memproduksi reefer container buatan dalam negeri, Universitas Brawijaya selaku perwakilan dari institusi pendidikan yang nantinya mampu mengembangkan berbagai jenis teknologi dan inovasi untuk sistem rantai dingin Indonesia, lalu adanya pihak keempat dari Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia ( AP5I ), dan terakhir dari Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia ( ARPI ). Melalui penandatanganan antara kelima pihak ini, diharapkan sistem rantai dingin buatan Indonesia ini mampu menjaga mutu produk perikanan dan mampu mendukung pegiriman door to door produk frozen. Dikatakan oleh Direktur Utama PT Inka Persero – Budi Novianto, prototipe dari reefer container sudah ada dan siap diuji coba. Keberhasilan dari uji coba tersebut menjadi titik kesiapan Indonesia untuk menghadapi pasar ekspor yang lebih luas dengan tetap menjaga mutu produk. PT Inka Persero memiliki spesifikasi dari prototipe yang sudah dibuat, yaitu ada yang berkapasitas 1 ( satu ) ton, 2 ( dua ) ton, dan 5 ( lima ton ) untuk mini reefer container. Untuk tingginya ada yang berukuran 20 kaki dan 40 kaki. Temperaturnya berkisar antara -25°C dan -10 °C dengan ambient temperatur 40°C. Sumber listrik dari genset ( portable ) dengan jenis muatan ikan, sayur dan buah dengan operasional portable.

Tinggalkan Balasan