Rapat Teknis Pokja Peningkatan Produksi Industri Udang – 19 Agustus 2021

Dalam rangka penguatan komitmen, kerjasama dan kolaborasi para pihak dalam mewujudkan upaya pemerintah untuk Akselerasi Produksi dan Peningkatan Ekspor Udang sebesar 250% pada 2024, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengadakan Rapat Teknis Pokja Peningkatan Produksi Industri Udang yang dihadiri oleh perwakilan dari kantor Staff Presiden, Bappenas, KKP, KemenDag, KemenPerind, KemenHub, BUMN, Tim Pakar dan Mitra Kerja Kemenkomarves termasuk AP5I. Rakor teknis ini bertujuan untuk melakukan penyusunan crash program dan pemetaan Kegiatan ” Pengembangan Hilirisasi Produksi dan Pemasaran Udang Tahun 2022 -2024 “ yang meliputi Penguatan Sistem Logistik Perikanan dan Rantai Pasok Perikanan, Penguatan Penetrasi Pasar di negara tertentu dan Perluasan Jejaring Pasar Udang di tingkat Internasional, Pengembangkan Industri Turunan Pengolahan Produk Udang dan Diversifikasi Produk Olahan Udang Bernilai tambah, Perbaikan kualitas, Kapasitas dan Produktivitas dan Daya Saing Industri Pengolahan/UPI, Pengembangan Sistem Pemasaran Produk Perikanan berbasis Digital dan Pengembangan Start up, Penguatan Branding Produk Udang Nasional, Penguatan Standardisasi, Sertifikasi, Traceability dan Quality Assurance. Salah satu yang menjadi fokus dalam rakor ini adalah masalah logistik di udang dari hulu mulai dari panen di petambak sampai ke unit pengolahan ikan yang menjadi hilirnya.  Saat ini fasilitas untuk hilir sudah terpenuhi dan dibangun oleh UPI sendiri, namun untuk sisi hulunya masih banyak fasilitas yang belum mendukung berjalannya logistik dengan mudah. Untuk meningkatkan daya saing produk udang di Indonesia, salah satu yang harus dibenahi adalah bagian hulu untuk mendukung supply udang karena sampai saat ini bahan baku udang di Indonesia lebih mahal sehingga utilitas UPI di Indonesia rendah.  Apabila produksi udang meningkat maka UPI bisa melakukan design terhadap produk dan market yang dituju, namun jika produksi udang sedikit maka UPI tidak bisa melakukan penetrasi pasar karena untuk memenuhi kebutuhan bahan baku saja sudah sulit akibatnya utilitas UPI menjadi rendah. Selain itu dihulu juga harus diperhatikan masalah kualitas dan kuantitas terutama masalah handling dari tambak ke unit pengolahan.  Ketua Umum AP5I – Budhi Wibowo menjelaskan bahwa untuk tahun 2020 produk breaded shrimp Indonesia ke USA menjadi nomer 1 dan meningkat hampir 40% dari tahun sebelumnya, dimana dimasa pandemi covid-19 ini produk-produk yang disukai di USA adalah produk ritel dan value added. Pemasaran produk pengolahan udang untuk ekspor lebih banyak melibatkan ke B to B karena setiap negara tujuan ekspor mempunyai taste yang berbeda-beda dengan negara lainnya. Kedepannya diperlukan penguatan Branding Udang, dan saat ini AP5I yang didukung oleh Unido, SIPPO, Global Cool, dan KKP sudah menyiapkan sarana penguatan branding udang seperti website, dan pameran/misi dagang. Market intelligent Indonesia juga harus lebih aktif untuk melihat peluang-peluang market di negara lain terutama pasar-pasar baru.

Tinggalkan Balasan