News

Panen Raya Udang Vaname di Budidaya Udang Berbasis Kawasan ( BUBK ) – 23 Mei 2026

Presiden Prabowo panen raya udang vaname di Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) yang dikembangkan pemerintah. Panen raya ke-8 kali ini menunjukkan capaian produksi yang diklaim telah mencapai standar praktik terbaik dunia atau best practice. Dari total lahan budidaya seluas 24 hektar, produksi diproyeksikan mencapai 960 ton dalam satu siklus panen. Panen raya yang proyek kali ini sudah ada sejak 3 tahun yang lalu. Produksi udang di BUBK mencapai kuantitas yang membanggakan. Dalam satu hektar tambak udang bisa menghasilkan sekitar 40 ton udang siap konsumsi. Menteri Kelautan dan Perikanan – Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, capaian tersebut diperoleh melalui penerapan standar budidaya intensif dengan peningkatan kepadatan tebar hingga 250 ekor per meter persegi. Sekarang ini pada tebarnya itu kita maksimumkan menjadi 250 ekor per meter persegi, dan ingin uji apakah bisa mencapai titik optimum. Kalau bisa mencapai titik optimum maka satu hektarnya akan menuju ke best practice. Indikator best practice yang digunakan mengacu pada capaian produksi terbaik dunia untuk budidaya udang, yakni sekitar 40 ton per hektar.  Panen yang dilakukan saat ini merupakan panen parsial atau bertahap sehingga hasil yang diangkat belum mencerminkan keseluruhan produksi kawasan. Dalam panen terbaru, total udang yang dipanen mencapai sekitar 80 ton. Metode panen parsial diterapkan karena seluruh kolam tidak dipanen dalam waktu bersamaan. Udang yang dipanen lebih dahulu merupakan yang telah mencapai ukuran terbesar. Ukuran udang dalam industri dihitung berdasarkan jumlah ekor dalam satu kilogram. Semakin kecil angka ukuran (size), ukuran udang semakin besar. Ukuran 20 itu berarti satu kilogram berisi 20 ekor. Kalau ukuran 50 berarti satu kilogram berisi 50 ekor. Selain menunjukkan capaian produksi, panen raya tersebut juga mencerminkan potensi ekonomi yang besar dari pengembangan tambak udang berbasis kawasan. Dengan asumsi harga jual sekitar Rp 70.000 per kilogram dan produksi tahunan yang berlangsung dalam dua periode panen, nilai ekonomi yang dihasilkan dapat mencapai sekitar Rp 153 miliar per tahun. Meski demikian, keberhasilan budidaya intensif tidak hanya ditentukan oleh kepadatan tebar, tetapi juga konsistensi pengelolaan tambak. Terdapat tiga faktor utama yang harus dijaga agar produktivitas tetap tinggi, yakni kualitas air, mutu benih, dan efisiensi pakan. Menjaga konsistensi soal kualitas air yang digunakan untuk budidaya, menjaga benih udangnya yang berkualitas baik, lalu pakan yang diberikan secara efektif. Itu yang harus dijaga. Capaian tersebut, diharapkan menjadi acuan pengembangan budidaya udang berbasis kawasan di wilayah lain guna memperkuat produksi nasional sekaligus meningkatkan daya saing sektor perikanan Indonesia di pasar global.

Tinggalkan Balasan