Rapat Usulan SNI Batas Maksimum Arsen Pada Hasil Perikanan – 23 Desember 2019

Dalam rangka menindaklanjuti rekomendasi anggota Komite Teknis 65-05 Produk Perikanan untuk melakukan pembahasan lebih lanjut terkait batasan maksimum logam berat Arsen ( As ) pada hasil perikanan serta menindaklanjuti Focus Group Discussion ( FGD ) mengenai Arsen dalam produk perikanan oleh BPOM, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan mengadakan rapat koordinasi mengenai usulan SNI Batas MAksimum Arsen ( As ) pada hasil perikanan. Hadir dalam FGD ini adalah perwakilan dari ┬áBSN, LIPI, IPB, Kemenkes, KKP, AP5I dan anggota komtek merekomendasikan Batasan arsen sebesar 0,25 ppm ( sesuai aturan BPOM ) karena sangat berat dan susah untuk mencapai ambang batas tersebut. Perka BPOM sebelumnya ( tahun 2009 ) dimana ambang batas kandungan arsen 1,00 ppm aja industri susah mencapainya, apalagi dengan aturan BPOM yang baru dengan ambang batas kandungan arsen 0,25 ppm. Sebagai informasi ternyata untuk arsen sendiri ada arsen anorganik dan arsen organic. Arsen organik ini tidak berbahaya dan bisa di lebur dalam bentuk kotoran di manusia, kandungan arsen organik di ikan sekitar 80 – 95%. Arsen anorganik yg memang bisa menjadi pemicu detox ditubuh. Utk arsen yang terdapat pada ikan dibawa secara alami dan tdk bisa diurai krn sdh terikat dlm protein. Biasanya banyak di tulang, sisik, dan sirip. Untuk produk perikanan kalau bahan bakunya sudah ada kandungan arsen tinggi pasti dihasil akhir juga akan terus diikat krn tdk bisa diurai dlm tubuh ikan. Yg penting arsen yg terikat itu sepanjang lebih besar yg organic tdk akan menjadi racun di tubuh krn bisa diurai dgn sendirinya oleh tubuh.Aturan arsen di indonesia masih arsen total belum terpisah organik atau anorganik, sdngkan di negara lain seperti malaysia, rusia, sudah di spesifik yang diatur adalah arsen anorganik. Kandungan arsen lebih tinggi di ikan laut daripada ikan budidaya. Hasil penelitian lab KKP hampir semua produk olahan ikan kandungan arsen diatas 0,25 ppm. BSN sendiri juga melakukan tes lab dr 17 produk ikan kaleng hanya 1 produk yang kandungannya dibawah 0,25 ppm yg lainnya diatas 0,25 ppm. Hasil tes LIPI pada ikan fresh frozen juga sama. BPOM sendiri menjelaskan bahwa yang diatur adalah arsen pada produk olahan tidak termasuk produk fresh ataupun produk ikan yang tidak mengalami penambahan bahan tambahan pangan. Namun ternyata di Perka BPOM sendiri mengatur secara keseluruhan ikan dan produk olahan ikan. Sampai saat ini tidak ada teknologi yang bisa menurunkan kandungan logam berat dalam ikan, jadi kalau bahan baku ikan kandungannya sudah tinggi otomatis olahannya juga tinggi.

Tinggalkan Balasan