Webinar Peningkatan Produksi Udang Windu dan Peluang Pasar ditengah Pandemi Covid – 23 juni 2020

Balai Perikanan Budidaya Air Payau ( BPBAP ) Takalar mengadakan Webinar Peningkatan Produksi Udang Windu dan Peluang Pasar ditengah Pandemi Covid-19. Udang windu saat ini gencar dikembangkan lagi ditengah banyaknya petambak mengembangkan udang vanamei. Kementerian Kelautan dan Perikanan terus menggenjot aliran bantuan kepada pembudidaya selama pandemi Covid-19. Selain sebagai langkah percepatan target penyaluran bantuan pemerintah, ini juga dilakukan untuk menggerakan ekonomi masyarakat pembudidaya ikan. Webinar dibuka oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya – Slamet Soebjakto yang menyatakan bahwa udang windu merupakan salah satu komoditas unggulan di Sulawesi Selatan. Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan prospek pasar yang baik, potensi wilayah dengan adanya pakan alami serta dukungan dan komitmen dari pemerintah daerah turut berperan menarik minat pembudidaya. Pengelolaan udang windu harus mempertimbangkan kesesuaian lokasi memenuhi prinsip cara budidaya yang baik agar usaha budidaya dapat berkelanjutan dan tidak mengulangi kegagalan usaha budidaya udang windu di masa lalu. Beberapa strategi juga telah dilakukan KKP agar target dapat tercapai serta meminimalisir kegagalan dalam usaha budidaya udang windu seperti melarang penggunaan induk udang asal tambak dan menyediakan induk udang hasil breeding program dari broodstock center. Saat ini KKP memiliki broodstock center khusus udang windu di BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar yang akan didorong untuk menghasilkan induk-induk unggul untuk masyarakat. Selain memenuhi pasar ekspor, permintaan udang windu di pasar lokal juga cukup terjaga terutama di masa pandemi seperti sekarang, dimana kebutuhan untuk makanan bergizi sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Kepala BPBAP Takalar – Supito menyebutkan bahwa potensi budidaya udang windu di Sulawesi Selatan membutuhkan sinergitas berbagai elemen pendukung. Komoditas udang windu menjadi primadona khususnya di kalangan pembudidaya skala kecil dengan teknologi sederhana karena memiliki harga pasar yang baik dan relatif stabil. Keuntungan ekonomis yang didapat persatuan termasuk yang tertinggi dibandingkan dengan komoditas lain, sehingga banyak menarik minat pembudidaya. Ada beberapa faktor penyebab kegagalan produksi pembesaran udang windu seperti kualitas benih yang rendah dan terinfeksi penyakit, daya dukung lahan yang menurun, lingkungan budidaya yang terkontaminasi, dan fluktuasi lingkungan dalam tambak yang ekstrim akibat eutrifikasi. Selain itu sistem tata guna air yang buruk antar pembudidaya juga dapat memperparah kegagalan dan memudahkan proses kontaminasi dan infeksi penyakit pada petakan tambak dalam satu kawasan. Kajian dalam teknik berbudidaya juga telah dilakukan oleh tim BPBAP Takalar adalah aplikasi pupuk fermentasi bakteri lactobacillus untuk mencegah terjadinya pembusukan lumpur dasar tambak, meningkatkan kesuburan pakan alami karena mampu menguraikan kelebihan organik dasar tambak tanpa menggunakan oksigen terlarut, sehingga oksigen terlarut di air cukup selama pemeliharaan udang. Narasumber yang lain Harry Yuli Susanto, Managing Director – PT. Alter Trade Indonesia yang juga anggota AP5I mengatakan ada 3 alasan permintaan udang windu terus meningkat :

  1. Menjadi Lebih Langka.

Petani sebagian besar berpindah ke Vannamei dari udang windu. Udang windu dahulu merupakan spesies dominan di budidaya. Tingkat pertumbuhan yang lebih cepat, serta programs budidaya yang lebih berhasil mendorong petani berpindah species dari windu ke Vannamei .

  1. Udang Windu berasal dari Budidaya Mangrove Sistem yang Dikelola secara Berkelanjutan.
  2. Pengelolaan Mangrove yang berkelanjutan, memastikan minimal kerusakan terhadap lingkungan.
  3. Udang windu yang dibudidayakan secara tradisional menghasilkan produk yang unggul dalam ukuran dan rasa.

Koki mencari udang windu karena teksturnya yang kencang, warnanya cerah, dan rasanya yang luar biasa.

Untuk itu dalam budidaya udang windu perlu diperhatikan Aquaculture Standard yang terdiri dari 10 kriteria yang harus terpenuhi :

  • Kriteria 1    Data pencatatan
  • Kriteria 2 Effluent / Buangan
  • Kriteria 3    Habitat
  • Kriteria 4    Penggunaan Kimia
  • Kriteria 5    Pakan
  • Kriteria 6    Escapes / Udang keluar
  • Kriteria 7   Penyakit
  • Kriteria 8   Sumber Benih dan Induk
  • Kriteria 9    Kematian Satwa
  • Kriteria 10 Species Sekunder

Seperti diketahui, udang merupakan sumber protein yang penting untuk pembentukan sel-sel tubuh yang turut berperan untuk mencegah penyakit. Kandungan nutrisi dalam udang dan manfaatnya seperti protein untuk membentuk sel tubuh, antioksidan dapat mengurangi peradangan, yodium untuk mendukung produksi hormon, asam lemak omega-3 yang dapat menekan risiko sakit jantung serta kalsium yang baik untuk tulang, gigi dan kinerja tubuh lain.

Tinggalkan Balasan