Webinar IPAL Minimalis Tambak Udang – Solusi Praktis Pengolahan Limbah Tambak Udang – 24 Agustus 2021

Forum Udang Indonesia untuk ketiga kalinya mengadakan Webinar dimana webinar kali ini bertemakan ” Instalasi Pengolahan Air Limbah ( IPAL ) Minimalis Tambak Udang, Solusi Praktis Pengolahan Limbah “.  Pembicara yang terlibat dalam webinar ini  Itang Hidayat – Aquaculture Technologyand Development PT Suri Tani Pemuka ( STP ) – Japfa Aquaculture dan TB. Haeru Rahayu ( Tebe ) – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan. IPAL pada usaha tambak udang merupakan hal yang sangat diperlukan bila pembudidaya ingin hasil produksi tambaknya selalu tinggi sepanjang tahun, tidak terkena racun organik, dan terhindar dari penyakit endemik di lingkungan sekitar lokasi tambak. Terdapat beberapa trik yang harus diketahui agar IPAL dapat dibuat dengan memiliki luas dan desain yang tepat, serta pengaturan aliran air dan oksigenasi disaat yang benar, dengan hasil akhir berupa limbah yang aman secara kimiawi dan mikrobiologis untuk di lepas ke perairan umum. Metode IPAL ini juga dapat diterapkan pada komoditas ikan budidaya lainnya. TB. Haeru Rahayu ( Tebe ) dalam sambutannya mengatakan revitalisasi tambak atau peningkatan produktivitas tambak tradisional dari 0,6 ton/ha/tahun menjadi 2 ton/ha/tahun yang diusung KKP selama periode 2021 -2024, secara tidak langsung akan berdampak terhadap peningkatan limbah buangan budidaya. Petambak harus mulai mengaplikasikan Intalasi Pengolahan Air Limbah ( IPAL ) supaya budiday bisa berkelanjutan. Tujuan penerapan IPAL yaitu meminimalisir beban limbah kegiatan budidaya, agar buangan air limbah ke lingkungan dapat memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Pengelolaan limbah harus efektif, efisien, tidak memakan tempat, teknologi mudah dikuasi ( user friendly ), serta mampu menekan biaya pengeluaran. Itang Hidayat turut memperkenalkan IPAL minimalis sebagai alternatif pengolahan air limbah tambak budidaya yang tepat. Keuntungan dari metode ini adalah memperoleh nilai efisiensi yang tinggi. Mampu menahan limbah padat agar tidak keluar lingkungan perairan sekitar. Serta mampu menahan limbah air dan padatan buangan baik saat panen atau buangan air limbah harian dari kegiatan budidaya. Desain dan skenario pengoperasian IPAL minimalis merupakan IPAL yang paling sederhana, tidak memerlukan lahan yang luas, karena seluruh proses terjadi dalam satu reactor, dan paling murah biaya operasionalnya. Terutama di pengoperasioan aerator, dimana aerator tidak dioperasikan selama 24 jam. Jenis aerator yang digunakan hanya berupa kincir, serta mampu meminimalisir penggunaan energi kincir dengan aktif 12 jam pada siang hari dan di non-aktifkan 12 jam pada malam hari. Limbah buangan lumpur tambak yang terendapkan oleh IPAL minimalis, mampu dijadikan sebagai bahan pupuk organik pertanian. IPAL minimalis mampu memperhatikan 3 hal diantaranya sederhana, kedua mudah dibuat dan ketiga tidak mahal. Dalam webinar ini dikenalkan IPAL minimalis sebagai upaya pengolahan limbah budidaya yang tepat. IPAL minimalis merupakan solusi transisi sebelum penerapan infrastruktur IPAL sesuai SNI. Prinsip IPAL Minimalis yaitu menahan limbah padat ( suspensi dan lumpur ) agar tidak keluar dari lingkungan tambak udang. Sesuai dengan pedoman pengolahan limbah tambak Permen-KP nomor 75 tahun 2016. IPAL Minimalis merupakan penggabungan dari 3 sistem ( kolam aerasi, Sequencing Batch Reactor/SBR, kolam fakultatif aerob-anaerob ). Karena semua fungsi itu dapat dicapai tanpa harus membangun sekian banyak unit petakan tambak. Terdapat 2 variasi IPAL minimalis, pertama yaitu kolam IPAL Minimalis dengan kolam biofiltrasi aerob, kedua kolam IPAL minimalis full ( penuh ) aerasi dengan kolam biofiltrasi atau disinfeksi. Tahapan proses IPAL ini dimulai dengan pengoperasian kincir hanya 12 jam saat siang hari, untuk menghidupkan NH3 menjadi NO3. Kemudian kincir dimatikan selama 12 jam di malam hari agar terjadi proses anaerobik, mengubah nitrogen menjadi N2 dan lepas ke atmosfer. Hal ini akan menghemat penggunaan energi. Selain itu, IPAL minimalis mempunyai waktu tinggal (HRT) 4 jam per hari dan sudah dapat dipertanggungjawabkan kualitas buangannya. Sehingga 1 kolam IPAL Minimalis mampu menampung debit air dari 8 kolam budidaya yang dipanen pada saat bersamaan. 1 kolam IPAL Minimalis juga mampu menampung debit air 20 kolam budidaya, namun dengan catatan kolam budidaya melakukan pergantian air maksimal 5 % per hari. IPAL minimalis dapat menjadi alternatif pengolahan air limbah tambak budidaya udang. Aplikasi teknologi ini dapat mengakomodasi resiko pencemaran lingkungan dari kegiatan budidaya tambak dengan teknologi tepat guna, sederhana, perawatan mudah, dan biaya relative murah dengan luasan lahan yang terbatas.

Tinggalkan Balasan