Audiensi Asosiasi/ Eksportir Komoditas Udang dengan Menteri Kelautan dan Perikanan – 26 Agustus 2021

Dalam rangka peningkatan ekspor produk perikanan serta menyikapi situasi terkini perkembangan ekspor dan dinamika pasar global, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan memfasilitasi audiensi asosiasi/eksportir Komoditas Udang dengan Menteri Kelautan dan Perikanan. Udang menjadi komoditas kelautan dan perikanan yang menjadi primadona ekspor selama Januari hingga April 2021. Nilai ekspor udang mencapai 725,98 juta atau Rp 10,3 triliun atau menyumbang 41,56% terhadap total nilai ekspor. Seperti diketahui, tahun ini Menteri Kelautan dan Perikanan – Sakti Wahyu Trenggono menargetkan kenaikan ekspor komoditas kelautan dan perikanan sebesar 1 miliar dollar AS dari tahun sebelumnya, atau sebesar 6,05 miliar dollar AS di tahun ini. Audiensi di buka oleh Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan ( PDSPKP ) – Artati Widiarti yang mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya telah menargetkan peningkatan kualitas produk kelautan dan perikanan untuk menggenjot volume dan nilai ekspor di 2021. Selama caturwulan pertama 2021, ekspor komoditas kelautan dan perikanan menunjukkan kinerja positif dibandingkan periode sama tahun lalu. Ekspornya meningkat 4,15% selama Januari-April 2021, dengan total nilai ekspor sebesar 1,75 miliar dollar AS. Kinerja positif ini turut berdampak pada neraca perdagangan sektor kelautan dan perikanan, dengan surplus neraca mencapai 1,59 miliar dollar AS atau naik 3,26% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada April 2021, nilai ekspor produk kelautan dan perikanan menyentuh angka 488,61 juta dollar AS atau lebih tinggi 11,6%, dibanding April 2020. Peningkatan nilai ekspor dan surplus neraca perdagangan sektor kelautan dan perikanan ini menjadi momentum untuk pencapaian target ekspor produk kelautan dan perikanan tahun 2021. Adapun tujuan ekspor komoditas kelautan dan perikanan dari Indonesia di dominasi oleh Amerika Serikat dengan kontribusi sebesar 772,59 juta dollar AS atau 44,23% terhadap total nilai ekspor caturwulan I tahun 2021. Disusul Tiongkok dengan 246,69 juta dollar AS atau 14,12% dari total nilai ekspor dan Jepang sebesar 190,70 juta dollar AS atau 10,92%. Selanjutnya negara-negara ASEAN sebesar 189,89 juta dollar AS ( 10,87% ), Uni Eropa 83,64 juta dollar AS ( 4,79% ), dan Australia sebesar 38,29 juta dollar AS ( 2,19% ). Dalam audiensi ini  Menteri Kelautan dan Perikanan mengatakan  udang menjadi salah satu komoditas perikanan yang digenjot produktivitasnya untuk kebutuhan pasar ekspor. Pemerintah bahkan sudah menargetkan ekspor udang nasional meningkat 250% pada tahun 2024. Untuk mencapai target tersebut, dalam penjelasannya KKP mengusung tiga program. Pertama melakukan evaluasi tambak udang eksisting di seluruh Indonesia. Diketahui luasan tambak udang di Indonesia mencapai 562.000 hektare ( Ha ). Dari jumlah tersebut, 93% di antaranya merupakan tambak udang tradisional dengan luasan 522.600 Ha dan 7% sisanya adalah tambak semi intensif dan intensif seluas 52.698 Ha. Kemudian dari luasan tambak tradisional yang ada, menunjukkan 5% nya merupakan tambak idle atau sudah berubah fungsi. Sehingga total tambak tradisional yang masih aktif hanya tinggal 247.803 Ha dengan produktivitas 0,6 ton/hektare/tahun. Angka tersebut jauh di bawah hasil panen tambak semi intensif atau intensif yang bisa mencapai 10-30 ton/hektare/tahun. Program kedua revitalisasi sehingga produktivitas yang tadinya 0,6 ton per hektare per tahun, ditingkatkan menjadi 2 ton. Itu terjadi peningkatan yang sangat siginifikan. Revitalisasi yang dimaksud berupa rehabilitasi infrastruktur dasar pertambakan tradisional yang pengerjaannya akan dilakukan tahun depan. Target luasan tambak yang direvitalisasi seluas 242.803 Ha sampai tahun 2024 melalui dana APBN. Kemudian program ketiga, akan membangun modelling tambak udang terintegrasi dengan luasan mencapai 1.000 hektare. Di satu kawasan tambak nantinya berdiri pula laboratorium, hatchery, coldstorage hingga ekosistem usaha seperti pabrik pakan, pabrik es, hingga kuliner. Modelling 1.000 hektare ini cukup bagus. Ada model yang 100%  dibangun oleh KKP, ada juga yang melibatkan masyarakat. Kalau ini bisa selesai dalam dua tahun, maka 2024 bisa terpenuhi target peningkatan 250% ekspor. Selain menyampaikan program untuk produktivitas tambak udang, Menteri KKP juga mengusulkan perizinan tambak budidaya menjadi wewenang pemerintah pusat setingkat kementerian dari yang tadinya di daerah. Langkah ini untuk menjamin aktivitas pertambakan sesuai dengan prinsip ekonomi biru. Dengan begitu KKP bisa menilai bahwa wilayah yang dimintakan betul-betul memenuhi persyaratan dari sisi lingkungan. Termasuk apakah tambak yang akan dibangun ada di kawasan yang mengganggu zona yang lain atau tidak. Selain udang vanamei, KKP juga sedang mempelajari potensi dan peluang dari udang windu ( black tiger ) untuk dikembangkan karena saat ini permintaan udang windu di pasar ekspor belum bisa terpenuhi oleh UPI di Indonesia. Ketua Umum AP5I – Budhi Wibowo dalam pertemuan audiensi ini menyampaikan permasalahan utama UPI udang adalah kurang bahan baku, dimana saat ini utilitas UPI Udang dikisaran 60-70% sehingga harga bahan baku di Indonesia lebih mahal dari pesaing, terutama India dan Equador. Dimasa pandemi covid-19, pasar food service mengalami penurunan drastis dikarenakan banyaknya lockdown dibeberapa negara eksportir, tapi pasar ritel tumbuh. UPI udang melakukan switching pasar food service ke pasar ritel, terutama produk value added, sehingga Tahun 2020 eskpor udang tumbuh menggembirakan volume sekitar 15 % volume ( 20 %, value ). Kenaikan ekspor produk olahan udang juga menggembirakan sekitar 40 %, Indonesia tahun 2020 untuk produk breaded shrimps menjadi urutan pertama di USA sedangkan tahun 2019 masih diurutan ke empat. Terlihat bahwa industri pengolahan udang yang paling siap melakukan switching pasar dibandingkan dengan komoditi lainnya. Ekspor udang Indonesia tahun 2021 tetap tumbuh tetapi pertumbuhannya melambat  jika dibandingkan pertumbuhan tahun 2020 diperkiraakan hanya sekitar 5 % ( volume ) padahal untuk mencapai target pemerintah pertumbuhan ekspor 250 % setidaknya setiap tahun harus tumbuh 15 %, untuk itu diperlukan upaya keras semua stakeholder untuk meningkatkan produksi. Selain itu untuk memperkenalkan udang Indonesia agar posisinya makin kuat di pasar udang dunia, perlu dukungan pemerintah untuk promosi udang Indonesia melalui pameran dagang ( di luar negeri dan dalam negeri ) dan melalui misi dagang.    Negara yang potensial untuk dikembangkan pasarnya terutama china , negara lain yang potensial dan belum banyak digarap adalah Korea Selatan dan negara-negara Eropa timur ex Russia federation. Untuk meningkatkan promosi udang Indonesia,  AP5I didukung Dirjen PDSKP dan di Support UNIDO dan SIPPO telah membuat Branding Indonesia Shrimp dan Web Indonesia Shrimp dan akan dilaunching dalam jangka waktu dekat ini.

Tinggalkan Balasan