Webinar Peningkatan Nilai Tambah Produk Kelautan dan Perikanan Berdaya Saing – 30 Juni 2020

Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan mengadakan Webinar “ Peningkatan Nilai Tambah Produk Kelautan dan Perikanan Berdaya Saing “ yang diikuti hamper 1.500 peserta. Webinar dibuka oleh Direktur Jenderal PDSPKPNilanto Perbowo yang mengatakan bahwa dengan kondisi covid-19 ini banyak peluang pasar untuk produk olahan perikanan untuk memenuhi kebutuhan konsumen saat ini yang fokus dengan makanan sehat. Syamsul Arifin dari PT. GRI salah satu narasumber di webinar ini menjelaskan mengenai pentingnya membaca peluang yang ada dimasa covid-19 terhadap produk olahan perikanan. Seperti diketahui kelebihan dari komoditi perikanan adalah   kandungan protein yang cukup tinggi ( 20%)  dalam tubuh ikan tersusun oleh asam-asam amino yang berpola mendekati pola kebutuhan asam amino dalam tubuh manusia, daging ikan mudah dicerna oleh tubuh karena mengandung sedikit tenunan pengikat ( tendon ), dan daging ikan mengandung asam-asam lemak tak jenuh dengan kadar kolesterol sangat rendah yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Sedangkan kelemahan komoditi perikanan yang  mudah busuk ( perishable ) dan perlu penanganan khusus, sehingga membuat produk olahan perikanan untuk pasar domestik masih terbatas pada produk “ itu-itu “ saja, dan saat ini sarana penjualan dan distribusi untuk produk olahan perikanan menjadi kendala terutama yang door to door. Dalam presentasinya Syamsul Arifin menjelaskan mengenai pentingnya mengetahui mengenai bauran pemasaran yang terdiri dari Produk, Price, Place, Promotion dan People. Peluang dimasa dan pasca covid-19 sangat besar, pasar tetap ada namun mengalami perubahan seperti untuk DINE-IN menjadi sangat dihindari, konsumen lebih memilih makanan praktis dan siap santap sehingga konsumen banyak mencari produk olahan yang bisa memenuhi kebutuhan mereka saat ini. Untuk itu perlu dicermati pemilihan produk apa yang akan diproduksi dan dijual karena sangat penting terkait langkah yang akan kita lakukan dalam memasarkan produk. Untuk produk olahan itu soal rasa, soal cinta pada cicipan pertama sehingga penting banget buat produk olahan yang akan dipasarkan dilakukan trial uji coba dulu ke beberapa orang untuk mendapatkan tekstur dan rasa yang pas. Sedangkan dari UMKM Al-Fadh yang memproduksi produk olahan berbasis lele dari Boyolali, Eka mengatakan saat ini perlu dilakukan diversifikasi produk dan inovasi untuk bisa bertahan di masa pandemi covid-19 ini. UMKM Al-Fadh sendiri sudah melakukan diversifikasi produk olahan dari ikan lele, baik produk olahan kering ( Abon, Abon lembaran, dendeng, kripik-kulit, kripik sirip, kripik daging, krupuk, stick pastel, kruwel, nastar, garle dan lain lain ) maupun produk olahan frozen ( Bakso, Nugget, Sosis, Kaki naga, Otak-otak, tahu bakso, lele crunch, Pepes telor lele, dawet lele dan lain lain ). Penasihat Menteri Kelautan dan PerikananRina Sa’adah mengatakan diperlukan inovasi new normal dimana terhambanya ekspor import selama masa pandemi covid-19 bisa dijadikan momentum untuk kebangkitan produk lokal ( nasional ) dan menguasai pasar domestik yang semula dikuasai produk impor. Perlu diciptakan keberagaman produk olahan perikanan dimana sektor kelautan dan perikanan harus menjadi core economy nasional, bersama sektor pertanian dan perikanan pengelolaan hulu dan hilir. Potensi dan pasar nasional sangat besar, di samping luasnya pasar global. Pengembangan produk olahan perikanan dan kelautan untuk konsumsi lokal dan nasional diharapkan bisa memenuhi gaya hidup konsumsi masyarakat dalam menghadapi new normal di pandemi covid-19 sehingga produk olahan perikanan bisa menjadi produk pilihan konsumsi dan gaya hidup untuk kesehatan.

Tinggalkan Balasan