Webinar Mengantisipasi AHPND dan Penyakit Udang Lainnya – 9 Juli 2020

PT. Parigi Aquacultur Tura Prima ( Tambak Udang Rakyat Berkelanjutan ) mengadakan Webinar “ Mengantisipasi AHPND dan Penyakit Udang Lainnya ( Mengenali Penyakit dan Langkah-langkah Pencegahannya ) “ dengan menghadirkan narasumber Sidrotun Naim ( Direktur Pusat Studi Budidaya Berkelanjutan dan Patologi Surya University ) dan Supito Sumarto ( Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar ). Industri udang nasional kini sedang bersiaga, menyusul penyakit udang yang sudah mewabah di sejumlah negara produsen dunia. Penyakit yang ditakuti itu bernama Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease( AHPND ). Diketahui, AHPND adalah penyakit yang disebabkan adanya infeksi bakteri vibrio parahaemolyticus( Vp AHPND ) yang mampu memproduksi toksin dan menyebabkan kematian pada udang dengan mortalitas mencapai 100%. Kematian akibat AHPND terjadi pada umur kurang dari 40 hari setelah ditebar di tambak. Penyakit tersebut pertama kali muncul di Tiongkok pada 2009 dan dikenal dengan sebutan covert mortality disease. Meski saat ini Indonesia masih dinyatakan bebas dari penyakit tersebut, namun potensi resikonya masih tinggi dan harus diantisipasi serius. Indonesia harus tetap waspada dengan setiap transaksi bisnis dari negara yang sudah terpapar penyakit tersebut karena penyakit AHPND tergolong penyakit lintas batas ( transboundary disease ). Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah dengan menyusun prosedur operasi standar ( SOP ) pencegahan penyakit bakterial, khususnya AHPND, penguatan kapasitas laboratorium ( sumber daya manusia/SDM dan peralatannya ) pada unit pelaksana teknis ( UPT ) DJPB KKP dan UPT Karantina dalam pengujian AHPND. Kemudian, menyusun rencana aksi pencegahan masuk dan tersebarnya penyakit AHPND di Indonesia yang meliputi sosialisasi, surveilan dan penerapan biosecurity secara bersama-sama oleh stakeholder ( tambak dan hatcher y). Salah satu pencegahan penyebaran penyakit udang dapat dilakukan dengan menerapkan sistem biosekuriti. Pada dasarnya, biosekuriti merupakan serangkaian proses dan tindakan untuk mencegah introduksi penyakit ke dalam suatu tempat. Cakupannya sendiri sangat beragam, mulai dari farm, kolam atau tambak, hamparan wilayah, hingga teritorial suatu negara. Dalam konteks tambak, biosekuriti dapat diartikan sebagai upaya pencegahan masuknya penyakit ke dalam tambak. Atau pencegahan kontaminasi dari satu lokasi tambak yang terinfeksi ke lokasi yang masih free( bebas ) penyakit. Oleh karena kewaspadaan perlu digali dan ditingkatkan di kalangan petambak, sehingga bila menemukan udang mati massal dan mendadak di dasar petak umur < 30 hari (beda dengan WSSV udang mengambang di permukaan sebelum mati, berwarna sedikit kemerahan dan diikuti/tidak adanya bintik putih di karapaks), terutama pada saat sipon dilakukan, maka tindakan yang harus dilakukan adalah menginsolasi petak tersebut dan segera melaporkan ke pihak yang kompeten ( DJPB KKP ).

Tinggalkan Balasan