Marine and Fisheries Business and Investment Forum ( MFBIF ) – 14 Desember 2020

Dalam upaya mendorong peningkatan investasi dan pengembangan usaha sector kelautan dan perikanan, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP mengadakan Marine and Fisheries Business and Investment Forum ( MFBIF ) dengan tema “ Peluang dan Investasi Kelautan dan Perikanan Unggulan Menyambut Era New Normal “. Adaptasi kebiasaan baru terbukti mampu menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di sektor kelautan dan perikanan. Hal ini tercermin dalam capaian realisasi investasi nasional pada Triwulan III tahun 2020 mencapai Rp209,0 triliun atau meningkat 8,9% dari Triwulan II tahun 2020 sebesar Rp191,9 triliun. Angka tersebut lebih besar 1,6% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 dengan investasi sebesar Rp205,7 triliun. Secara kumulatif sepanjang periode Januari-September 2020, kinerja realisasi investasi Indonesia tercatat mencapai Rp611,6 triliun dan mampu menyerap 861.581 orang tenaga kerja. Adapun kinerja investasi sektor kelautan dan perikanan yang bersumber pada PMA, PMDN, dan Kredit Investasi sampai dengan Triwulan III-2020, telah mencapai Rp4,55 triliun atau mencapai 87,33% dari target tahun 2020 sebesar Rp5,21 triliun. Pengolahan dan budidaya adalah bidang usaha dengan kontribusi tertinggi dalam realisasi investasi, dengan proporsi masing masing 29,53% dan 29,22%. Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan ( PDSPKP ) – Artati Widiarti saat membuka MFBIF memaparkan realisasi investasi yang bersumber dari PMA sampai dengan triwulan III 2020 didominasi oleh 5 negara yaitu dari Tiongkok, Singapura, Thailand, India, dan Jepang. Total investasi kelima negara tersebut mencapai Rp1,15 triliun atau 89,17% dari nilai total PMA. Dalam forum tersebut diinformasikan 5 provinsi yang menjadi tujuan utama investasi yaitu Jawa Timur, DKI Jakarta, Lampung, Maluku, dan Jawa Barat. Nilai investasi pada kelima provinsi tersebut mencapai Rp2,71 triliun atau 59,41% dari total realisasi investasi. Saat ini PDSPKP KKP menargetkan investasi sektor kelautan dan perikanan selama 2020-2024 sebesar Rp29,02 triliun. Diharapkan investasi tersebut bisa meningkatkan daya saing produk kelautan dan perikanan Indonesia hingga berdampak pada peningkatan nilai ekspor. Tentunya diperlukan sinergitas dengan berbagai pihak agar kebijakan ini bisa bermanfaat bagi semua masyarakat. Pemerintah membuka peluang investasi seluas-luasnya di sektor kelautan dan perikanan. Di Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara misalnya, tersedia tanah seluas 7,92 hektare di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) untuk industri perikanan dan penunjang. Lahan tersebut pun semakin potensial mengingat terletak di daerah penangkapan ikan di WPP 714 dan 715, hal ini disampaikan Kepala PPS Kendari – Mansur. Saat berbicara di webinar dipaparkan keuntungan berinvestasi di PPS Kendari seperti aksesibilitas jalur distribusi ikan dari dan keluar PPS dengan adanya Bandara, Kendari New Port, infrastruktur jalan beraspal tanpa hambatan dan jembatan Teluk Kendari yang bisa ditempuh dalam waktu relatif singkat dari PPS. Bergeser ke Sulawesi Tengah, terdapat kawasan industri aquakultur terintegrasi di Luwuk – Banggai. Business Development PT Courage Consulting Indonesia – Syarif Wijaya Salim menyebut komoditas yang diangkat adalah udang vannamei. Keunggulan kawasan industri budidaya udang adalah dikelola dengan smart management system dimana menggunakan integrated command center untuk manajemen tambak udang dan pemantauan realtime online melalui HP, sistem pemberikan pakan otomatis dan layout tambak efisien. Kemudian di sisi selatan, tepatnya di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menawarkan investasi yang tak kalah menarik. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kab. Sumbawa – Junaidi memastikan, Pemerintah Provinsi NTB telah mendorong percepatan pembangunan di kawasan Saleh-Moyo-Tambora ( SAMOTA ) yang merupakan Kawasan Strategis Provinsi di Sumbawa. Di kawasan tersebut, tepatnya Teluk Saleh selain memiliki aquarium raksasa, komoditas potensialnya adalah mutiara, kerapu, rumput laut, tambak garam dan udang. Selain SAMOTA, Junaidi juga menawarkan peluang investasi di Kawasan Ekonomi Khusus ( KEK ) Teluk Santong. Pulau Moyo memiliki Taman Buru dan Taman Wisata Alam Laut. Sedangkan Tambora termasuk Geo Park. Sementara di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, menawarkan budidaya perikanan. Daerah ini pun memiliki potensi tambak 6.457,6 hektare dan budidaya kolam seluas 1.845 hektare. Kepala Dinas Perikanan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sambas – Ilham Sehan, menyebut ada 7 kecamatan yang menjadi sentra produksi budidaya air payau dengan lahan tambak produktif seluas 1.310,5 hektare. Saat ini, tambak udang di Kecamatan Paloh milik masyarakat menggunakan pola kemitraan dalam pemanfaatan lahan dengan sistem bagi hasil antara masyarakat pemilik lahan dan Koperasi Nelayan Paloh Jaya sebagai pengelola tambak udang. Berikutnya di sisi barat Indonesia, tepatnya di Pelabuhan Perikanan Nusantara ( PPN ) Sungailiat, Kepulauan Bangka Belitung, juga menawarkan aksesibilitas infrastruktur untuk menarik investor. Kepala PPN Sungailiat – Anam Tofani membeberkan keunggulan berinvestasi di PPN Sungailiat adalah akses yang mudah, ketersediaan lahan yang luas, fasilitas memadai, sumber daya ikan melimpah. Bisa untuk investasi jangka panjang juga. Sebagai informasi, kinerja investasi sektor kelautan dan perikanan yang bersumber pada PMA, PMDN, dan Kredit Investasi sampai dengan Triwulan III-2020, telah mencapai Rp4,55 triliun atau mencapai 87,33% dari target tahun 2020 sebesar Rp5,21 triliun . Pengolahan dan budidaya adalah bidang usaha dengan kontribusi tertinggi dalam realisasi investasi, dengan proporsi masing masing 29,53% dan 29,22%.

Tinggalkan Balasan